 | About Me | Sep 8, 2008 |
Oleh,
H. MAS'OED ABIDIN
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (UUD-45). “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, dan "Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab, serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. (UU No. 20 th 2003, Sistem Pendidikan Nasional)
KEIKHLASAN MEMBENTUK MANUSIA BERKUALITAS Kemulian pengabdian seorang pendidik terpancar dari keikhlasan membentuk anak manusia menjadi pintar, berilmu, berakhlak dan pengamal ilmu yang menjelmakan kebaikan pada diri, kerluarga, dan di tengah umat kelilingnya. Namun sekarang, kita menatap fenomena mencemaskan. Penetrasi bahkan infiltrasi budaya asing ternyata berkembang pesat. Pengaruhnya tampak pada perilaku pengagungan materia secara berlebihan (materialistik) dan kecenderungan memisah kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik). Kemudian berkembang pula pemujaan kesenangan indera dengan mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Hakekatnya, telah terjadi penyimpangan perilaku yang sangat jauh dari budaya luhur – adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah-. Kesudahannya, rela atau tidak, pasti mengundang kriminalitas, sadisme, dan krisis secara meluas.
Pergeseran paradigma materialistic acapkali menjadikan para pendidik (murabbi) tidak berdaya menampilkan model keteladanan. Ketidakberdayaan itu, menjadi penghalang pencapaian hasil membentuk watak anak nagari. Sekaligus, menjadi titik lemah penilaian terhadap murabbi bersangkutan. Tantangan berat ini hanya mungkin dihadapi dengan menampilkan keterpaduan dalam proses pembelajaran dan pengulangan contoh baik (uswah) terus menerus. Jati diri bangsa terletak pada peran maksimal ibu bapa – yang menjadi kekuatan inti masyarakat – dalam rumah tangga. Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dengan semangat dan cita-cita yang besar ditopang kearifan.
Kedalaman pengertian serta pengalaman di dalam membaca situasi dan upaya menggerakkan masyarakat sekitar yang mendukung proses pendidikan. Usaha berkesinambungan mesti sejalan dengan, (a). pengokohan lembaga keluarga (extended family), (b). pemeranan peran serta masyarakat secara pro aktif, (c). menjaga kelestarian adat budaya (hidup beradat). Oleh karena itu setiap generasi yang dilahirkan dalam satu rumpun bangsa (daerah) wajib tumbuh menjadi, a. Kekuatan yang peduli dan pro-aktif dalam menopang pembangunan bangsanya. b. Mempunyai tujuan yang jelas, menciptakan kesejahteraan yang adil merata melalui program-program pembangunan. c. Sadar manfaat pembangunan merata dengan, 1. prinsip-prinsip jelas, 2. equiti yang berkesinambungan, 3. partisipasi tumbuh dari bawah dan datang dari atas, 4. setiap individu di dorong maju 5. merasa aman yang menjamin kesejahteraan.
MENGHADAPI ARUS KESEJAGATAN Kesejagatan (global) yang deras secara dinamik perlu dihadapi dengan penyesuaian kadar apa yang di kehendaki. Artinya, arus kesejagatan tidak boleh mencabut generasi dari akar budaya bangsanya. Sebaliknya, arus kesejagatan itu mesti dirancang dapat ditolak mana yang tidak sesuai. Alaf baru ini ditandai mobilitas serba cepat dan modern. Persaingan keras dan kompetitif seiring dengan laju informasi dan komunikasi serba efektif tanpa batas. Bahkan, tidak jarang membawa pula limbah budaya ke barat-baratan, menjadi tantangan yang tidak mudah dicegah. Menjadi pertanyaan, apakah siap mengha¬dapi perubahan cepat penuh tantangan, tanpa kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas yang berani melawan terjangan globalisasi itu?” Maka, semua elemen masyarakat berkewajiban menyiapkan generasi yang mampu bersaing di era tantangan sosial budaya, ekonomi, politik, menyangkut semua aspek kehidupan manusia. Globalisasi membawa perubahan perilaku, terutama terhadap generasi muda. Jika tidak mempunyai kekuatan ilmu, akidah dan budaya luhur, akan terancam menjadi generasi buih, sewaktu-waktu terhempas di karang dzurriyatan dhi’afan, menjadi “X-G” atau the loses generation.
Membiarkan diri terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri akhirnya menyisakan malapetaka. Pemahaman ini, perlu ditanamkan di kala melangkah ke alaf baru. Kelemahan mendasar terdapat pada melemahnya jati diri. Kelemahan ini dapat terjadi karena kurangnya komitmen kepada nilai luhur agama (syarak) yang menjadi anutan bangsa. Lemahnya jati diri akan dipertajam oleh tindakan isolasi diri lantaran kurang kemampuan dalam penguasaan “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya). Ujungnya, generasi bangsa menjadi terjajah di negerinya sendiri. Mau tidak mau, tertutup peluang berperan serta dalam kesejagatan. Kurang percaya diri lebih banyak disebabkan oleh, (a). Lemah penguasaan teknologi dasar yang menopang perekonomian bangsa, dan (b). Lemah minat menuntut ilmu.
HILANGNYA AKHLAK MENJADIKAN SDM LEMAH Penyimpangan perilaku menjadi ukuran moral dan akhlak. Hilang kendali menjadi salah satu penyebab lemahnya ketahanan bangsa. Yang merasakan akibatnya, terutama tentulah generasi muda, lantaran rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan. Hapusnya panutan dan impotensi tokoh pemangku adat dalam mengawal budaya syarak, dan pupusnya wibawa ulama menjaga syariat agama, memperlemah daya saing anak nagari. Lemahnya tanggung jawab masyarakat, akan berdampak dengan terbiarkan kejahatan meruyak secara meluas. Interaksi nilai budaya asing yang bergerak kencang tanpa kendali, akan melumpuhkan kekuatan budaya luhur anak nagari. Bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis. Akibatnya, profesi guru (murabbi) mulai dilecehkan.
Hilang keseimbangan telah mendatangkan frustrasi sosial yang parah. Tatanan bermasyarakat tampil dengan berbagai kemelut. Krisis nilai akan menggeser akhlak dan tanggungjawab moral social ke arah tidak acuh (permisiveness). Dan bahkan, terkesan toleran terhadap perlakuan maksiat, aniaya dan durjana. Konsep kehidupan juga mengalami krisis dengan pergeseran pandang (view) terhadap ukuran nilai. Sehingga, tampil pula krisis kridebilitas dalam bentuk "erosi kepercayaan". Peran orang tua, guru dan pengajar di mimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa. Giliran berikutnya, lembaga-lembaga masyarakat berhadapan dengan krisis tanggung jawab kultural yang terkekang sistim dan membelenggu dinamika. Orientasi kepentingan elitis sering tidak populis dan tidak demokratis. Dinamika perilaku mempertahankan prestasi menjadi satu keniscayaan beralih ke orientasi prestise dan keijazahan. Tampillah krisis solidaritas.
Kesenjangan sosial, telah mempersempit kesempatan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan secara merata. Idealisme pada generasi muda tentang masa datang mereka, mulai kabur. Perjalanan budaya (adat) terkesan mengabaikan nilai agama (syarak). Pengabaian ini pula yang mendatangkan penyakit sosial yang kronis, di antaranya kegemaran berkorupsi. Adalah suatu keniscayaan belaka, bahwa masa depan sangat banyak ditentukan oleh kekuatan budaya yang dominan. Sisi lain dari era kesejagatan adalah perlombaan mengejar kemajuan seperti pertumbuhan ekonomi dan komunikasi untuk menciptakan kemakmuran. Lemahnya syarak (aqidah tauhid) di tengah mesyarakat serta merta mencerminkan perilaku tidak Islami yang senang melalaikan ibadah.
GENERASI PENYUMBANG Membentuk generasi penyumbang dalam bidang pemikiran (aqliyah), ataupun pembaharuan (inovator) harus menjadi sasaran perioritas. Keberhasilan akan selalu ditentukan oleh adanya keunggulan pada institusi di bidang pendidikan yang ditujukan untuk membentuk generasi yang menguasai pengetahuan dengan kemampuan dan pemahaman mengidentifikasi masalah yang dihadapi. Seterusnya, mengarah kepada kaderisasi diiringi oleh penswadayaan kesempatan-kesempatan yang ada. Generasi baru yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan.
Kekuatan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada. Generasi muda harus menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan. Mereka mesti dibina dengan budaya kuat yang berintikan "nilai-nilai dinamik" dan relevan dalam kemajuan di zaman itu. Generasi masa depan yang diminati, lahir dengan budaya luhur (tamaddun) berlandaskan tauhidik, kreatif dan dinamik. Maka, strategi pendidikan mesti mempunyai utilitarian ilmu berasas epistemologi Islam yang jelas. Sasarannya, untuk membentuk generasi yang tumbuh dengan tasawwur (world view) yang integratik dan umatik sifatnya. Artinya, pendidikan mengarah kepada membentuk generasi yang bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan. Generasi sedemikian hanya dapat dikembangkan melalui pendidikan akhlak, budi pekerti dan penguasaan ilmu pengetahuan. Maka akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya, karena pada akhirnya ilmu yang benar, akan membimbing umat ke arah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang baik (shaleh). Dengan demikian, diyakini bahwa akhlak adalah jiwa pendidikan, inti ajaran agama, buah dari keimanan.
Generasi penerus harus taat hukum. Upaya ini dilakukan dengan memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga. Mengokohkan peran orang tua, ibu bapak, dan memungsikan peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif. Memperkaya warisan budaya dilakukan dengan menanamkan sikap setia, cinta dan rasa tanggung jawab, sehingga patah tumbuh hilang berganti. Menanamkan aqidah shahih (tauhid) dengan istiqamah pada agama Islam yang dianut. Menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlak, niscaya yang akan lahir saintis tak bermoral agama. Kesudahannya, ilmu banyak dengan iman yang tipis, berujung dengan sedikit kepedulian di tengah bermasyarakat.
Langkah-langkah ke arah pembentukan generasi mendatang sesuai bimbingan Kitabullah QS.3:102 mesti dipandu pada jalur pendidikan, formal atau non formal. Mencetak anak bangsa yang pintar dan bertaqwa (QS.49:13), oleh para pendidik (murabbi) yang berkualitas pula. Keberhasilan gerakan dengan pengorganisasian (nidzam) yang rapi. Menyiapkan orang-orang (SDM) yang kompeten, dengan peralatan memadai. Penguasaan kondisi umat, dengan mengenali permasaalahan keumatan. Mengenali tingkat sosial dan budaya daerah, hanya dapat di baca dalam peta dakwah yang bagaimanapun kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan diajak berperan tersebut. Di sini terpampang langkah pendidikan yang strategis itu.
Di samping itu perlu pula menanamkan kesadaran serta tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah. Sikap penyayang dan adil, akan dapat memelihara hubungan harmonis dengan alam, sehingga lingkungan ulayat dan ekosistim dapat terpelihara. Melazimkan musyawarah dengan disiplin, akan menjadikan masyarakat teguh politik dan kuat dalam menetapkan posisi tawar. Kukuh ekonomi serta bijak memilih prioritas pada yang hak, menjadi identitas generasi yang menjaga nilai puncak budaya Islami yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Semestinya disadari bahwa budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.
PENGUATAN NILAI BUDAYA (TAMADDUN) Madani mengandung kata maddana al-madaina atau banaa-ha, artinya membangun atau hadhdhara, maknanya memperadabkan dan tamaddana artinya menjadi beradab dengan hidup berilmu (rasio), mempunyai rasa (arif, emosi) secara individu dan kelompok mempunyai kemandirian (kekuatan dan kedaulatan) dalam tata ruang, peraturan dan perundangan yang saling berkaitan.(Al Munawwir, 1997:1320, dan Al-Munjid, al-Mu'ashirah, 2000:1326-1327).
Masyarakat madani (al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya yang maju, modern, berakhlak dan mempunyai peradaban melaksanakan ajaran agama (syarak) dengan benar. Masyarakat madani (tamaddun) adalah masyarakat berbudaya dan berakhlaq. Akhlaq adalah melaksanakan ajaran agama (Islam). Memerankan nilai-nilai tamaddun -- agama dan adat budaya -- di dalam tatanan kehidupan masyarakat, menjadi landasan kokoh meletakkan dasar pengkaderan (re-generasi) agar tidak terlahir generasi yang lemah. Kegiatan utama diarahkan kepada kehidupan sehari-hari.
Keterlibatan generasi muda pada aktifitas-aktifitas lembaga agama dan budaya, dan penjalinan hubungan erat yang timbal balik antara badan-badan kebudayaan di dalam maupun di luar daerah , menjadi pendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab. Generasi penyumbang (inovator) sangat perlu dibentuk dalam kerangka pembangunan berjangka panjang. Bila terlupakan, yang akan lahir adalah generasi pengguna (konsumptif) yang tidak bersikap produktif, dan akan menjadi benalu bagi bangsa dan negara.
Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus didalam membentuk SDM, maka di samping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu dirancang kualita pendidik (murabbi) yang sejak awal mendapatkan pembinaan terpadu. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik, dan bukan utopis. Keberhasilan perkembangan generasi penerus ditentukan dalam menumbuhkan sumber daya manusia yang handal. Mereka, mesti mempunyai daya kreatif dan ino¬vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis. Mempunyai vitalitas tinggi, dan tidak mudah terbawa arus.
Generasi yang sanggup menghadapi realita baru, hanya dengan memahami nilai nilai budaya luhur. Selalu siap bersaing dalam basis ilmu pengetahuan dengan jati diri yang jelas dan sanggup menjaga destiny, mempunyai perilaku berakhlak. Berpegang teguh kepada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, mempunyai motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama. Mereka, akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan. Memahami dan mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan. Semestinya dipahami bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Karena itu, perlulah domein ruhiyah itu dibangun dengan sungguh-sungguh; a. pemantapan metodologi, b. pengembangan program pendidikan, c. pembinaan keluarga, institusi, dan lingkungan, d. pemantapan aqidah (pemahaman aktif ajaran Agama)
MEMBENTUK SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS Kita berkewajiban membentuk SDM menjadi sumber daya umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan nilai asas "gotong royong", berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta'awunitas. Beberapa model dapat dikembangkan di kalangan para pendidik. Antara lain, pemurnian wawasan fikir disertai kekuatan zikir, penajaman visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan. Mengembangkan keteladanan (uswah hasanah) dengan sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi serta menguatkan solidaritas beralaskan iman dan adat istiadat luhur. “Nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso”. Akhirnya, intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.
Para pendidik (murabbi) adalah bagian dari suluah bendang dengan uswah hidup mempunyai sahsiah (شخصية) bermakna pribadi yang melukiskan sifat individu mencakup gaya hidup, kepercayaan, kesadaran beragama dan harapan, nilai, motivasi, pemikiran, perasaan, budi pekerti, persepsi, tabiat, sikap dan watak akan mampu menghadirkan kesan positif masyarakat Nagari. Faktor kepribadian tetap diperlukan dalam proses pematangan sikap perilaku anak didik yang mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seseorang.
Ciri kepribadian syarak yang mesti ditanamkan merangkum sifat-sifat, 1. Sifat Ruhaniah dan Akidah, mencakup keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna, keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, dan kepercayaan kepada seluruh asas keimanan (arkan al iman) yang lain. 2. Sifat-Sifat Akhlak, tampak di dalam perilaku ; Benar, jujur, menepati janji dan amanah. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan. Tawadhu’, sabar, tabah dan cekatan, Lapang dada – hilm --, pemaaf dan toleransi. Bersikap ramah, pemurah, zuhud dan berani bertindak. 3. Sifat Mental, Kejiwaan dan Jasmani, meliputi ; a. Sikap Mental, yang Cerdas -- pintar teori, amali dan sosial --, menguasai spesialisasi (takhassus). Mencintai bidang akliah yang sehat, fasih, bijak penyampaian. Mengenali ciri, watak, kecenderungan masyarakat Nagari. b. Sifat Kejiwaan, emosi terkendali, optimis dalam hidup, harap kepada Allah. Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat. Lemah lembut dan baik dalam pergaulan dengan masyarakat. c. Sifat Fisik, mencakup sehat tubuh, berpembawaan menarik, bersih, rapi (kemas) dan menyejukkan.
Satu daftar senarai panjang menerangkan sikap pendidik adalah berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), berdisiplin baik, adil dalam menerapkan aturan. Memahami masalah dengan amanah dan mampu memilah intan dari kaca. Mempunyai kemauan yang kuat serta bersedia memperbaiki kesalahan dengan sadar. Selanjutnya tidak menyimpang dari ruh syari’at. Maknanya, mampu melakukan strukturisasi ruhaniyah.
Para murabbi dapat mewujudkan delapan tanggung jawab dalam hidup; 1). Tanggungjawab terhadap Allah, dengan keyakinan iman dan kukuh ibadah bersifat istiqamah, iltizam beramal soleh dengan rasa khusyuk dalam mencapai derajat taqwa dan mengagungkan syiar Islam dengan perilaku beradat dan beradab. 2). Tanggungjawab terhadap Diri, mengupayakan keselamatan diri, baik aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih dan mampu berkhidmat kepada Allah, masyarakat dan negara. 3). Tanggungjawab terhadap Ilmu, menguasai ilmu takhassus secara mendalam dan menelusuri dimensi spiritualitas Islam dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan untuk tujuan kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia. 4). Tanggungjawab terhadap Profesi, tidak bertingkah laku yang menghilangkan kepercayaan orang ramai dan dapat memelihara maruah diri dengan amanah. 5). Tanggungjawab terhadap Nagari, mengutamakan keselamatan anak Nagari dan memfungsikan lembaga lembaga pendidikan (surau) dengan ikhlas. 6). Tangungjawab Terhadap Sejawat, menghindari tindakan yang mencemarkan sejawat dengan berusaha sepenuh hati mengedepankan kemajuan social hanya karena Allah. 7). Tanggungjawab terhadap Masyarakat dan Negara, tidak merusak kepentingan masyarakat atau negara dan selalu menjaga kerukunan bernegara di bawah syari’at Allah. 8). Tanggung jawab kepada Rumah Tangga dan Ibu Bapa, dengan menghormati tanggungjawab utama ibu bapa dengan mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.
MENGHIDUPKAN PARTISIPASI UMAT Umat mesti mengantisipasi berbagai krisis dengan kekuatan agama dan budaya (adat dan syarak) agar tidak menjadi kalah di tengah era persaingan. Memantapkan watak terbuka dan pendidikan akhlak berlandaskan ajaran tauhid. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17.
Menghadapi degradasi akhlak dapat dilakukan berbagai program, antara lain ; 1. INTEGRASI AKHLAK yang kuat dengan menanamkan penghormatan terhadap orang tua. Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan. Pendalaman ajaran agama (tafaqquh fid-diin). Berpijak kepada nilai-nilai Islam yang universal (tafaqquh fin-naas). Membawa masyarakat memperhatikan masalah sosial (umatisasi) dengan teguh. Menetapkan kepentingan bersama dengan ukuran taqwa, responsif dan kritis dalam mengenali kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan. Tahap selanjutnya mendorong kepada penguasaan ilmu pengetahuan. Kaya dimensi dalam pergaulan bersama mencercahkan rahmatan lil ‘alamin pada seluruh aspek kehidupan. 2. KEKUATAN RUHIYAH. Ketahanan umat, bangsa dan daerah terletak pada kekuatan ruhiyah dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan. Intinya adalah tauhid. Implementasinya akhlak. Umat kini akan menjadi baik dan berjaya, apabila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu dikembalikan. Bertindak atas dasar anutan yang kuat, yakni "memulai dari diri sendiri, mencontohkannya kepada masyarakat lain", (Al Hadist). 3. JALINAN KERJASAMA yang kuat rapi – network, nidzam – antara lembaga perguruan secara akademik, dengan meningkatkan pengadaan pengguna fasilitas. a. Mendorong pemilikan jati diri berbangsa dan bernegara. b. Memperkokoh interaksi kesejagatan dengan melakukan penelitian bersama, penelaahan perubahan-perubahan di desa dan kota, antisipasi arus kesejagatan dengan penguatan jati diri generasi. c. Pengoperasionalan hasil-hasil penelitian. d. Meningkatkan kerja sama berbagai instansi yang dapat menopang peningkatan kesejahteraan.
Menggali ekoteknologi dengan kearifan yang ramah lingkungan. Menanam keyakinan actual, bahwa yang ada sekarang adalah milik generasi mendatang. Keyakinan ini menumbuhkan penyadaran bahwa beban kewajiban generasi adalah memelihara dan menjaga untuk diwariskan kepada gererasi pengganti, secara berkesinambungan, lebih baik dan lebih sempurna. Aktifitas ini akan memacu peningkatan daya kinerja di berbagai bidang garapan melalui rancangan pembangunan pendidikan arus bawah, mempertajam alur pemikiran melalui pendidikan dengan pendekatan holistik (holistic approach) menurut cara yang tepat. Allah mengingatkan, apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96). Artinya, mengajak Umat mempelajari dan mengamalkan iman dan taqwa (tuntutan syarak sesuai ajaran Islam). Selanjutnya, menggiatkan penyebaran dan penyiaran dakwah, untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia. DI BAWAH KONSEP REDHA ALLAH Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) pada dua sisi. Dimulai dengan, ishlah an-nafsi, yaitu perbaikan kualitas diri sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah, "Mulailah dari diri kamu kemudian lanjutkan kepada keluargamu" (Al Hadist). Selanjutnya islah al-ghairi yaitu perbaikan kualitas lingkungan menyangkut masalah hubungan sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam lingkungan yang dikenal sebagai sustainable development atau pengembangan berkesinambungan.
Langkah awal yang harus ditempuh adalah menanamkan kesadaran tinggi tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Penggarapan secara sistematik dengan pendekatan proaktif, untuk mendorong terbangunnya proses pengupayaan (the process of empowerment), umat membangun dan memelihara akhlak.
MELAKSANAKAN TUGAS PENDIODIKAN adalah bagian dari TUGAS DAKWAH terus menerus dengan petunjuk yang lurus (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46) dibuktikan dengan beribadah kepada Allah. Mengawal generasi Sumbar yang tetap kuat melaksanakan ajaran agama Islam secara kaffah. Menjauhi pikiran, konsep dan ajakan yang mengarah atau membawa kepada sikap musyrik. Mengingatkan selalu untuk bersiap kembali kepada-Nya (QS.Al Qashash, 28 : 87). Setiap muslim hakikinya adalah umat dakwah pelanjut Risalah Rasul yakni Islam. Dari sini, berawal gerakan syarak mangato adat memakai, artinya hidup dan bergaul dengan meniru watak pendakwah pertama, Muhammad Rasulullah SAW. Meneladani pribadi Muhammad SAW untuk membentuk effectif leader di medan dakwah dalam menuju inti agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 : 21).
Dakwah selalu akan berkembang sesuai variasi zaman yang senantiasa berubah. Tahapan berikutnya perencanaan terarah, untuk mewujudkan keseimbangan antara minat dan keterampilan dengan strategi (siyasah) yang jelas. Aspek pelatihan menjadi faktor utama pengupayaan. Konsep-konsep visi, misi, memang sering terbentur oleh lemahnya metodologi dalam operasional (pencapaian). Maka dalam tahap pelaksanaan mesti diupayakan secara sistematis (the level of actualization). Menetapkan langkah ke depan pembinaan human capital dengan keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan.
Pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualitas wajib mempunyai jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif. Langkah yang dapat dilakukan adalah mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan. Langkah drastik berikutnya mencetak ilmuan beriman taqwa seiring dengan pembinaan minat dan wawasan. Generasi muda Sumbar ke depan mesti menyatukan akidah, budaya dan bahasa bangsa, untuk dapat mewujudkan masyarakat madani yang berteras keadilan sosial yang terang. Strategi pendidikan yang madani (maju, dan berperadaban) menjadi satu nikmat yang wajib dipelihara, agar selalu bertambah.
Perlu ada kepastian dari pemerintah daerah dengan satu political action yang jelas tegas berkelanjutan, untuk mendorong pengamalan ajaran Agama (syarak) Islam, melalui jalur pendidikan formal dan non-formal secara nyata. Political will, akan sangat menentukan dalam membentuk generasi muda Sumbar yang kuat dan berjaya di masa datang. Ajaran tauhid mengajarkan agar kita menguatkan hati, karena Allah selalu beserta orang yang beriman. Dengan bermodal keyakinan tauhid ini, niscaya generasi terpelajar akan bangkit dengan pasti dan sikap yang positif. (a). Menjadi sumber kekuatan dalam proses pembangunan, (b). Menggerakkan integrasi aktif, (c). Menjadi subjek dan penggerak pembangunan nagari dan daerahnya sendiri.
Semoga Allah memberi kekuatan memelihara amanah bangsa ini dan senantiasa meredhai. Amin.
Wabillahit-taufiq wal hidayah, Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh.
Padang 10 Muharram 1431 H/7 Desember 2010 M 
|  | Di sini barang-barang berharga dari peninggalan dan perjalanan sejarah pembinaan serta pembangunan Masjidil Haram dan Ka'bah di Makkah al Mukarramah dapat disaksikan. Namun tidak semua orang dapat melihatnya setiap waktu. Alhamdulilah kita punya kesempatan menyaksikannya tahun ini. |
SHALAT KUNCI KEHIDUPAN DAN KEBERHASILAN Oleh : H. Mas’oed Abidin الحَمْدُ ِللهِ غَافِرِ الذَّنـْبِ وَ قَابِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ العِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِلَيْهِ اْلمَصِيْرُ. وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، يُسَبِّحُ لَهُ مَا فيِ السَّموَاتِ وَ مَا فيِ الأَرْضِ، لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ، وَ هُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، البَشِيْرُ النَّذِيْرُ، وَ السِّرَاجُ المُنِيْرُ، صَلَوَاتُ اللهِ وَ سَلاَمُهُ عَلىَ هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ ، وَ عَلىَ آله وَصَحَابَتِهِ وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ وَ عَزَّرُوْهُ وَ نَصَرُوْهُ وَ اتـَّبَعُوْا النُّوْرَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ، وَ أَحْيِنَا اللَّهُمَّ عَلىَ سُنَّتِهِ، وَ أَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ، وَ احْشُرْنَا فيِ زُمْرَتـِهِ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنـْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ حَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا. اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Seungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (Q.S. Al ‘Ankabut : 45) Kemusliman seseorang bisa dilihat dari shalatnya. Shalat sangat berperan dalam membentuk kepribadian seorang muslim. Jika shalatnya baik lagi benar, dilakukan tepat waktu dan dengan hati yang khusyu’ serta ikhlas Lillahi Ta’ala, Insya Allah shalat itu dapat mencegahnya dari perbuatan yang dimurkai oleh Allah SWT. Shalat lima waktu adalah rangkaian perjalanan menghadap Tuhan, yang telah diwajibkan Allah kepada hamba-Nya di dalam waktu yang berbeda, setiap siang dan malam. Di dalam s halat seorang mukmin melepaskan dirinya dari segala urusan duniawi dan menumpahkan seluruh pengabdian kepada Tuhannya dengan cara mengingat kebesaran-Nya, bermunajat kepada-Nya, memohon pertolongan dan petunjuk dari-Nya. Di dalam shalat seorang menyerahkan diri sepenuhnya kepada perlindungan Tuhan Yang Maha Pengasih, menghayati kebesaran-Nya yang mutlak, menjadikan diri kita kecil di hadapan kebesaran-Nya dalam kehidupan duniawi. Al Qur’an menyebutkan bahwa persaudaraan seiman dan seakidah dapat dinilai dari tobat, zakat dan shalat yang ditegakkannya. Al Qur’an menjelaskan bahwa orang yang bertaubat kemudian mau mengeluarkan zakat dan selalu mengerjakan shalat dengan sempurna adalah saudara se-agama. Sebagai yang ditegaskan dalam firman Allah SWT: فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ اْلآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudara seagama.” (Q.S. At Taubah: 11) Shalat lima waktu, apabila dikerjakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan sesuai tuntunan yang telah ditetapkan akan berimplikasi positif kepada pelakunya. Syaratnya berwudhu’ yang dilakukan sebelum shalat, pakaian dan tempat yang bersih lagi suci dari najis adalah mendidik agar kita mencintai kebersihan. Di samping kebersihan badan, pakaian dan tempat, yang lebih penting lagi adalah kebersihan hati dari sifat riya’ atau semata mengharap penilaian orang lain saja. Maka, dari shalat dapat diambil dua manfaat dalam hidup yakni kecintaan dan kebersihan. Pertama kebersihan badan, pakaian dan lingkungan. Kedua adalah kebersihan hati dan kesucian jiwa, karena wudhu’ dapat membersihkan noda dan dosa yang pernah dilakukan oleh anggota badan. Dengan usapan dan percikan air yang membasuh bagian anggota badan kita, saat itu noda dan dosa berguguran seiring dengan cucuran air wudhu’ yang membasahinya.[1] Shalat mendidik berdisiplin dan menghargai waktu. Shalat menanamkan sikap ksatria, yaitu sikap sedia dipimpin dan siap memimpin, menjadi imam memimpin makmum. Gerakan Shalat Membuat Jasmani dan Rohani sehat Semua gerakan yang ada di dalam shalat mengandung hikmah besar dalam membentuk fisik (jasmaniyah) sehat, berefek positif terhadap kesehatan rohani (mental/jiwa) bagi yang melaksanakannya.[2] Di antaranya ; Posisi 1 : Berdiri Tegak, dengan pandangan mata ke arah tempat sujud dan menghadap kiblat. Dengan posisi ini, tubuh merasa bebas dari beban, karena pembagian beban yang sama pada kedua kaki. Punggung lurus akan memperbaiki postur tubuh. Pandangan dipertajam dengan memfokuskan pada tempat sujud. Otot-otot punggung bagian atas dan bawah dilemaskan, pusat otak bagian atas dan bawah dipadukan membentuk satu kesatuan tujuan. Posisi 2 : Berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di dada. Dengan posisi ini dapat diperpanjang konsentrasi pengendoran kaki dan punggung. Membaca ayat-ayat Al Qur’an atau doa dapat merangsang penyebaran Asmaul Husna (99 Nama Tuhan) ke seluruh tubuh, pikiran dan jiwa. Suara (vokal) merangsang jantung, kelenjer gondok (tyroid), kelenjer pineal, kelenjer bawah otak, kelenjer adrenal dan paru-paru serta akan membersihkan dan mengeringkan semua organ tersebut. Gerakan shalat ini dapat menciptakan sirkulasi darah, terutama aliran darah kembali ke jantung, serta produksi getah bening dan jaringan yang terkumpul dalam kantong-kantong kedua persendian itu menjadi lebih baik, gerakannya menjadi lancar dan dapat menghindarkan diri dari penyakit di persendian, misalnya reumatik. Posisi 3 : Ruku’. Posisi ini dapat melonggarkan otot-otot punggung bawah, paha dan betis. Darah dipompa ke batang tubuh bagian atas. Juga dapat melonggarkan otot-otot perut, abdomen dan ginjal. Dengan ruku’ ternyata tulang punggung (vertebrae) dapat tetap berada dalam keadaan baik, karena persendian di antara badan-badan ruas tulang belakang (corpus vertebrae) tetap lembut dan lentur. Dapat memudahkan persalinan bagi wanita yang melahirkan. Selain itu, ruku’ dapat menciptakan konsentrasi secara serentak antara otot-otot pinggang, sehingga penyakit pembungkukan tulang punggung (scloise) yang sering dialami terutama oleh anak-anak karena sikap duduk yang salah saat menulis atau membaca dapat dihindarkan. Posisi 4 : Bangkit dari ruku’ (I’tidal). Gerakan ini membawa darah segar yang bergerak naik ke batang tubuh saat ruku’ akan kembali ke keadaan semula dengan membawa toksin. Tubuh menjadi santai kembali dan melepaskan ketegangan. Posisi 5: Sujud. Secara ilmiah sujud dapat menyebabkan otot-otot menjadi besar dan kuat terutama otot-otot dada, sehingga terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh dada tidak kuat. Lutut yang membentuk sudut yang tepat memungkinkan otot perut berkembang dan dapat mencegah pembesaran di bagian tengah perut. Sujud menyebabkan 20 % oksigen yang ada pada tubuh akan mengalir ke otak, sehingga aliran darah dalam otak semakin lancar. Sujud dapat memperlancar aliran darah ke bagian atas tubuh terutama kepala (mata, hidung, dan telinga) serta paru-paru yang memungkinkan toksin-toksin dibersihkan oleh darah. Ternyata sujud dapat mengurangi tekanan darah tinggi dan menambah elastisitas tulang. Pada saat sujud, semua otot akan berkontraksi, bukan saja otot menjadi besar dan kuat, tapi urat-urat darah sebagai pembuluh nadi, pembuluh darah balik, serta urat-urat getah bening akan terurut. Peredaran darah dan lympa akan lancar, dan membantu kelancaran kerja jantung dan menghindarkan pengerutan dinding-dinding pembuluh darah (arterio-scelerosis). Gerakan sujud juga dapat mengahasilkan energi panas yang diperlukan oleh proses pencernaan makanan oleh tubuh. Sujud adalah esensi dari ibadah shalat. Posisi 6 : Duduk di antara Dua Sujud (Tasyahud Awwal/Duduk Iftirasy). Sikap ini dapat membantu menghilangkan efek racun pada hati dan merangsang gerakan paristaltik usus besar, serta akan membantu proses pencernaan dengan mendesak turun isi perut. Posisi 7 : Sujud ke dua setelah duduk Iftirasy. Pengulangan sujud yang lama dalam beberapa detik dapat membersihkan sistem pernafasan, peredaran darah dan saraf, juga penyebaran oksigen ke seluruh tubuh akan lebih lancar dan menciptakan keseimbangan sistem saraf simpatik dan para simpatik. Posisi 8 : Tasyahud Akhir/duduk Tawaruq. Posisi ini hampir sama manfaatnya dengan dengan posisi duduk Iftirasy. Pada kedua sikap duduk ini, sebenarnya kita duduk dengan otot-otot pangkal paha. Dimana di dalamnya terdapat salah satu saraf pangkal paha yang besar yaitu di atas kedua tumit kita, tumit dilapisi oleh sebuah otot yang berfungsi sebagai bantal, sehingga tumit menekan otot-otot pangkal paha serta saraf pangkal paha dan pijatan atau tekanan tersebut ternyata dapat menghindarkan atau menyembuhkan penyakit saraf pangkal paha (neuralgia) yang terasa sakit, nyeri dan sengal. Kesimpulannya, jika shalat kita kerjakan dengan sebenar-benarnya (sesuai gerakan dan syari’at), Insya Allah ia dapat melindungi, mencegah bahkan meyembuhkan dari sekumpulan penyakit ringan maupun berat.
Shalat Mencetak Pendekar Kehidupan
...وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ... “… Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar…” (Q.S. Al Ankabut: 45) Banyak manfaat social dalam pelaksanaan ibadah shalat. Shalat bukan sekedar ibadah perorangan yang dikerjakan oleh setiap mukmin, antara dirinya dengan Tuhan semata, yang terbatas kegunaannya hanya untuk mendidik jiwa. Shalat juga merupakan ibadah yang dikerjakan secara berjamaah, baik berjamaah itu sebagai suatu kewajiban, sunnah atau hanya keutamaan belaka, merupakan media perkenalan antara mukmin dan arena pertukaran pendapat di dalam segala masalah yang mereka perlukan, guna mencapaikebaikan bagi agama dan keduniaan mereka. Tempat mereka berkumpul untuk menunaikan shalat lima waktu, lebih menyerupai sebuah rumah perkumpulan yang bisa didatangi dengan segera oleh penghuni sebuah kampung, dalam beberapa waktu tertentu, dengan cara teratur dan berdisiplin. Inilah yang disebut masjid yakni tempat bersujud. Di tempat ini terjalin saling berkenalan, bertukar pendapat dan kemanfaatan tentang berbagai masalah yang diperlukan, secara kelompok atau perorangan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Islam mewajibkan berjamaah dalam lingkup yang lebih luas kepada penduduk sebuah kampung, sekali dalam seminggu. Dijadikan kewajiban berhimpun seperti itu, sebagai syarat syah shalat yang dikerjakan dalam perhimpunan itu, yakni shalat Jum’at. Di dalam shalat ini, kaum muslimin berkumpul, berkenalan, tolong menolong, mendengar nasehat, petunjuk keterangan tentang hukum-hukum Allah dan pengetahuan agamanya. Shalat Jamaah itu hakekatnya satu perkumpulan kebudayaan yang kooperatif. Islam tidak sekedar menganjurkan diadakan pertemuan kumpulan mingguan bahkan menganjurkan diselenggarakan perkumpulan yang bersifat lebih luas dan universal (umum). Yakni perkumpulan tahunan untuk menunaikan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Kemudian mewajibkan pula berkumpul kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia untuk menunaikan salah satu rukun Islam yaitu ibadah haji. Menunaikan ibadah haji ini, kaum muslimin datang berbondong-bondong dari seluruh penjuru bumi menuju Baitullah al haram – sumber petunjuk dan cahaya – di kota Makkah. Di tempat itu mereka menunaikan segala rukun ibadah haji, menyaksikan bekas-bekas peninggalan agama, mengingat kembali tempat-tempat turun wahyu dan bekas-bekas peninggalan Nabi Muhammad SAW beserta para shahabat-nya yang gigih menggalang semangat jihad (kesungguhan) menegakkan agama dan menyiarkannya kepada umat manusia.[3] Kewajiban Shalat Jumat 1. Shalat Jumat berjamaah hukumnya wajib bagi setiap muslim sesuai firman Allah, artinya "Wahai orang yang beriman,apabila sudah datang panggilan untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka segerlah kamu mengingat Allah (dengan melaksanakan shalat Jumat) dan tinggalkanlah jual beli.Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". (QS.Jumu'ah ayat 9). 2. Rasul SAW bersabda, "Barangsiapa meninggalkan shalat Jumat tiga kali karena sengaja meremehkan, maka Allah mencap hati orang tersebut sebagai orang muynafik" (HR.Ahmad). 3. Selanjutnya diriwayatkan dari Hakam bin Mina: bahwa Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah RA bercerita bahwa keduanya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas mimbarnya, "Hendaklah sekelompok orang menghentikan kebiasaan mereka meninggalkan shalat Jumat, atau Allah benar-benar akan menutup hati mereka sehingga mereka menjadi orang yang lalai" (3:10-Shahih Muslim,Mukhtashar/ 245,no.426). 4. Abdullah bin Mas'ud berkata; "Apabila kelak (besok) ingin bertemu Rasulullah SAW dalam keadaan Muslim, maka kerjakanlah selalu shalat lima waktu apabila telah mendengar adzan.(Ingat lah firman Allah. "Inna ash-shalata kaanat 'ala al mukminina kitaban mauqutan". Karena Allah mensyari'atkan tradisi yang berasal dari hidayah (sunnah al huda) dan shalat lima waktu itu merupakan tradisi itu. Andainya kamu shalat lima waktu di rumahmu seperti orang yang tertinggal di rumah (karena bukan uzur yang menghalangi), maka itu berarti kamu telah meninggalkan sunnah nabimu.('alaika bil jamaah). Dan kalau kamu meninggalkan sunnah nabimu, maka kamu akan sesat. Dan saya telah melihat tidak ada orang yang mengerjakan shalat di rumah kecuali orang-orang yang jelas munafik. Padahal ada seseorang yang di papah oleh dua orang untuk shalat berjamaah di masjid agar bisa bersama-sama shalat dalam satu shaf" (HR.Muslim). Melalui ibadah Jum'at kita dapat melakukan muhasabah (menghitung diri) sebelum di hisab. Ingatlah bahwa kelak Allah SWT akan melakukan timbangan atas diri kita masing2. Pesan Umar bin Khattab ini perlu diingat-ingat. حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَ زِنُوْا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنَ عَلَيْكُم 5. Beberapa adab dan tata cara shalat Jumat, antara lain ; a. Bersih badan dan pakaian, kalau dapat wewangian. b. Melaksanakan shalat sunnah di masjid c. Mendengarkan khuthbah Imam d. Shalat Jumat bersama Imam, e. Membanyakkan shalawat kepada Nabi SAW, f. Berdoa sungguh2 pada hari Jumat itu. Dalam pelaksanaan Jumatan jelas tampak peribadi muslim yang kuat imannya dengan penampilan baik pekertinya, sesuai pesan Nabi SAW, أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنِ إِيْمَانا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا،َ (رواه الطبراني و أبو نعيم) “Sebaik-baik mukmin seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya”. (HR. Thabarany dan Abu Nu’aim). Dapat disimpulkan bahwa hari Jumat semestinya dimuliakan dengan ibadah dan berbersih diri sesuai arahan Rasulullah SAW,
إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، وَطَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ، نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ، فَنَظِّفُوْا أَفْنِيِتَكُمْ وَلاَ تَتَشَبَّهُوا بِاليَهُوْدِ ) رواه الترمذ) ”Allah itu indah dan sangat menyenangi keindahan, Allah itu baik dan menyukai semua yang baik, Dia bersih menyenangi yang bersih. Maka bersihkan diri kamu, jangan ditiru perangai Yahudi”. (HR.Muslim dan Turmudzi). Kehidupan muslim saling mengokohkan satu sama lain bergerak serentak, seiya sekata, seayun selangkah ibarat (shaffan) satu shaf yang rapat pada bangunan yang kuat (ka al bunyan al marshush) dan mereka. Watak Muslim amat pandai berkasih sayang sesamanya. الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمُ اللهُ مَنْ فِى السَّمَاءِ (رواه أبوداود) “Orang-orang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang, maka sayangilah penduduk bumi agar yang di langit ikut pula menyayangimu.” (HR.Abu Daud). Mari kita agungkan Asma Allah, agar kita tidak menjadi golongan yang melupakan Allah, supaya kita tidak terjerembab kedalam kehidupan ummat yang lupa diri. وَلآ تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS.59, Al Hasyr :19). اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَنَا خَيْرًا ِمنْ أَمْسِنَا، وَ اجْعَلْ غَدَنَا خَيْرًا ِمْن يَوْمِنَا، وَ احْسِنْ عَاقِبَتَنَا فيِ الأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَ أَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَ عَذَابِ الآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتـِنَا، وَ آمِنَ رَوْعَاتـِنَا، وَ احْفَظْنَا مِنْ بَـيْنِ أَيْدِيْنَا مِنْ خَلْفِنَا، وَ عَنْ أَيـْمَانِنَا وَ عَنْ شـَمَائِلِنَا وَ مِنْ فَوْقِنَا، وَ نـَعُوْذُ بِعَظَمِتِكَ أَنْ نُغْتَالَ مِنْ تَحْتِنَا، اللَّهُمَّ أَكْرِمْنَا وَلاَ ُتِهنَّا، وَ اعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَزِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَ آثِرْنَا وَلاَ تُـؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضِ عَنَّا وَارْضِنَا. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.
Jakarta,11 Safar 1430 H / 7 Pebruari 2009 M [1] Sesuai hadits Rasulullah SAW dalam riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah r.a. [2] Silahkan juga membaca tulisan Prof. DR. H.A. Saboe dalam bukunya Hikmah Kesehatan dalam Shalat, 1986. Juga uraian bernas dari Syekh Hakim Abu Abdullah Ghulam Hoiruddin dalam bukunya The Book of Sufi Healding (Kitab Al Timn Al Rauhii As Suufi), yang mengatakan bahwa shalat dikerjakan dalam delapan posisi yang masing-masing dapat memberikan efek positif terhadap diri seseorang. Bahkan ahli lain ada yang menyebutkan 12 atau lebih posisi dalam shalat, yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia. [3] Lihat juga Prof. DR. Mahmud Syaltut dalam bukunya Islam: Aqidah dan Syari’ah, halaman 127-130) Isilah Kehidupan Dengan Amalan dan Doa Doa itu sangat penting dalam kehidupan. عَنْ عَلِىِّ بن أَبِي طَالِبِ رَضِىَ الله عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ، قال رسول الله ص.م: الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَ عِمَادُ الدِّيْنِ وَ نُوْرَ السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضِ "Dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama dan cahaya langit dan bumi." (HR. Al Hakim) Doa dalam istilah agama adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya. Di antara rukun doa adalah harus ada pemohon, yaitu hamba. Kemudian ada Dzat yang mengabulkan permohonan dari hamba, yaitu Allah SWT, dan selanjutnya adalah permohonan itu sendiri, yaitu sesuatu yang diminta oleh pemohon. Imam At Thiby mengatakan bahwa dengan doa menampakkan kerendahan diri dalam keadaan tidak berdaya dan tiada berkekuatan kepada siapa doa itu di arahkan dan kemudian mengatakan hajat, keperluan, dengan ketundukan kepada yang mmempu mengabukan doa itu, yakni Allah SWT. Doa adalah sarana penting bagi manusia untuk bermohon kepada kekuatan yang Maha Tinggi dan Maha Kuat. Doa adalah pengakuan akan kelemahan makhluk manusia di hadapan Khaliqnya. Dengan doa segala perasaan tercurahkan sehingga terjalinlah hubungan langsung antara Allah dengan hamba-Nya. Boleh dikatakan hampir setiap orang mengenal doa, dan sering melakukannya. Bahkan seorang pendurhaka sekalipun ketika dalam kesusahan juga memohon dengan berdoa kepada Allah SWT. Setiap manusia di dalam kesusahan selalu berlindung kepada Allah SWT. Allah selalu melindunginya dari bahaya atau kesusahan. Namun, kebanyakan manusia setelah selamat melupakan pertolongan dari Allah itu. Hal itu terjadi banyak ditentukan oleh kadar iman kepada Allah SWT. Doa adalah sebuah pengakuan dari seseorang akan kelemahannya. Seseorang yang enggan berdoa, masuk kepada golongan sombong yang merasa bahwa dirinya memiliki kekuasaan dalam memenuhi semua hajat dan keinginannya tanpa memohon bantuan kepada Khalik. Inilah manusia yang melampaui batas lantaran mereka melihat dirinya serba berkecukupan. Allah SWT berfirman: "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena dia melihat dirinya serba cukup." (Q.S Al 'Alaq: 6-7) Kebanyakan manusia, ketika senang dan mendapat nikmat, seringkali lupa dengan sumber nikmat itu. Tetapi di kala musibah menimpa, kesusahan membelit kehidupan, mulailah ia merunduk meratakan dahi menghiba-hiba memohon perlindungan ke haribaan Tuhannya. Ketika itu, mereka selalu bermunajat, berharap, memohon, dan merintih kepada Tuhannya. "Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa." (Q.S Fusshilat: 51) Semestinya bermunajat kepada Allah, adalah bagian dari upaya mendekatkan dirinya kepada Allah atau taqarrub kepada Allah yang diutamakan. Dengan berdoa, seseorang berkomunikasi langsung dengan Khaliq, Sang Penciptanya. Di saat berdoa, di dalam diri lahir suatu keyakinan bahwa Allah SWT Maha Mendengar, Maha Mengetahui dan Maha atas segalanya. Dengan keyakinan itu, timbul dorongan meningkatkan amal ibadah shaleh. Inilah semestinya tujuan utama dari doa. Terkabulnya doa bukan semata-mata karena tangisan sesaat di kala munajat. Terkabulnya doa ada syarat menyertainya. Di antaranya didahului penyucian diri (tashfiyatul qalbi wa tazkiyatun nafsiy) sehingga diri jauh dari apa yang dimurkai Allah dan diri mendekat kepada ridha Allah. Abu Ishaq – Ibrahim bim Adham bin Manshur (161 H/778 M) seorang sufi kelahiran Balkh, Khurasan pernah ditanya seseorang dari Basrah, "Mengapa doa kami tidak dikabulkan, padahal Allah telah berfirman: "Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu."? Ibrahim bin Adham menjawab: "Karena hati kalian telah mati." Ditanyakan lagi : "Apa yang bisa mematikannya?" Ibrahim bin Adham menjawab, "Delapan hal: 1. Kamu tahu hak Allah, tetapi tidak melaksanakan hak-Nya, 2. Kamu baca Al Qur'an, tetapi tidak mau amalkan hukum-hukum-Nya, 3. Kamu katakan cinta Rasulullah SAW, tetapi tidak mau melaksanakan Sunnahnya, (bahkan tidak mau bersalawat) 4. Kamu katakan takut mati, tetapi tidak pernah bersiap diri untuk menghadapinya, 5. Kamu baca firman Allah: "Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuhmu." (Q.S. Fathir: 6), tetapi kamu dukung syaithan dengan senang berbuat maksiat, 6. Kamu katakan takut neraka, tetapi kamu campakkan jasad kalian ke dalamnya, 7. Kamu katakan cinta surga, tetapi tidak bersungguh hati berusaha untuk mendapatkannya, 8. Apabila kamu berdiri di hamparan kehidupanmu, maka kamu lemparkan aib-aib kamu di belakang punggung kalian, dan kalian gelar aib-aib orang lain di hadapan kalian …….. lalu dengan demikian kalian membuat Tuhan kalian murka, maka bagaimana mungkin Dia mengabulkan doa kalian?" Sebelum bermunajat menutur doa ke hadirat Ilahi, alangkah bijaksananya periksa dulu prilaku diri … murka Allah haruslah dihindari, sehingga doa terkabulkan dan amal pun diridhai ….Ingatlah selalu Firman Allah dalam QS.2 Al Baqarah ayat 186. Maka kita masuki kehidupan kita kapan saja dengan menyelam ke lubuk hati kita masing-masing. Hidup yang baik bermodalkan Tauhid, dan berhias istighfar dan doa. Mari kita agungkan Asma Allah, agar kita tidak menjadi golongan yang melupakan Allah, supaya kita tidak terjerembab kedalam kehidupan ummat yang lupa diri. وَلآ تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS.59, Al Hasyr :19). اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَنَا خَيْرًا ِمنْ أَمْسِنَا، وَ اجْعَلْ غَدَنَا خَيْرًا ِمْن يَوْمِنَا، وَ احْسِنْ عَاقِبَتَنَا فيِ الأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَ أَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَ عَذَابِ الآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتـِنَا، وَ آمِنَ رَوْعَاتـِنَا، وَ احْفَظْنَا مِنْ بَـيْنِ أَيْدِيْنَا مِنْ خَلْفِنَا، وَ عَنْ أَيـْمَانِنَا وَ عَنْ شـَمَائِلِنَا وَ مِنْ فَوْقِنَا، وَ نـَعُوْذُ بِعَظَمِتِكَ أَنْ نُغْتَالَ مِنْ تَحْتِنَا، اللَّهُمَّ أَكْرِمْنَا وَلاَ ُتِهنَّا، وَ اعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا، وَزِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا، وَ آثِرْنَا وَلاَ تُـؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَارْضِ عَنَّا وَارْضِنَا. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ. Jakarta,11 Safar 1430 H / 7 Pebruari 2009 M 
|  | Rekaman Kenangan tak terlupakan, Indahnya ukhuwwah dan persaudaraan di jalan Allah. |

|  | Indahnya Perasaudaraan di jalan Allah Kenangan indah tak terlupakan
|
Hikmah Shalat Bagi Kesehatan
Oleh : Buya H. Mas'oed Abidin
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Seungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (Q.S. Al ‘Ankabut : 45) Dalam rangka membina kesehatan manusia. Islam membuat pedoman-pedoman secukupnya. Salah satunya adalah shalat lima waktu. Mungkin selama ini kita belum menyadari apa sesungguhnya hikmah dibalik gerakan shalat itu. Mengapa kita harus berdiri tegak dan lurus (bagi yang mampu), ruku’, i’tidal, sujud dan duduk (tahuyat) di dalam shalat? Tidakkah kita menyadari bahwa setiap gerakan itu mengandung unsur olah raga? Yang ternyata dapat menyehatkan jasmaniyah (tubuh) serta berefek positif terhadap kesehatan rohani (mental/jiwa) bagi yang melaksanakannya. Demikian menurut ahli. Prof. DR. H.A. Saboe dalam bukunya Hikamh Kesehatan dalam Shalat, 1986. Sedangkan ahli lain, Syekh Hakim Abu Abdullah Ghulam Hoiruddin dalam bukunya The Book of Sufi Healding (Kitab Al Timn Al Rauhii As Suufi), juga dalam versi Indonesia mengatakan bahwa shalat dikerjakan dalam delapan posisi yang masing-masing dapat memberikan efek positif terhadap siri seseorang. Dan ahli lain ada yang menyebutkan ada 12 atau lebih posisi dalam shalat. Posisi 1: Berdiri tegak, pandangan ke arah tempat sujud dan menghadap kiblat. Dengan posisi ini, tubuh merasa bebas dari beban, karena pembagian beban yang sama pada kedua kaki. Punggung lurus sehingga akan memperbaiki postur tubuh. Pandangan dipertajam dengan memfokuskan pada tempat sujud. Otot-otot punggung bagian atas dan bawah dilemaskan, pusat otak bagian atas dan bawah dipadukan membentuk satu kesatuan tujuan. Posisi 2: Berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di dada. Dengan posisi ini dapat diperpanjang konsentrasi pengendoran kaki dan punggung. Membaca ayat-ayat Al Qur’an atau doa dapat merangsang penyebaran 99 Nama Tuhan (Asmaul Husna) ke seluruh tubuh, pikiran dan jiwa. Suara vokalnya akan merangsang jantung, kelenjer gondok (tyroid), kelenjer pineal, kelenjer bawah otak, kelenjer adrenal dan paru-paru serta akan membersihkan dan mengeringkan semua organ tersebut. Juga dapat menciptakan sirkulasi darah, terutama aliran darah kembali ke jantung, serta produksi getah bening dan jaringan yang terkumpul dalam kantong-kantong kedua persendian itu menjadi lebih baik, gerakannya menjadi lancar dan dapat menghindarkan diri dari penyakit di persendian, misalnya reumatik. Posisi 3 : Ruku’ Posisi ini dapat melonggarkan otot-otot punggung bawah, paha dan betis. Darah dipompa ke batang tubuh bagian atas. Juga dapat melonggarkan otot-otot perut, abdomen dan ginjal. Dengan ruku’ ternyata tulang punggung (vertebrae) dapat tetap berada dalam keadaan baik, karena persendian diantara badan-badan ruas tulang belakang (corpus vertebrae) tetap lembut dan lentur. Dapat memudahkan persalinan bagi wanita yang melahirkan. Selain itu, ruku’ dapat menciptakan konsentrasi secara serentak antara otot-otot pinggang, sehingga penyakit pembungkukan tulang punggung (scloise) yang sering dialami terutama oleh anak-anak karena sikap duduk yang salah saat menulis atau membaca dapat dihindarkan. Posisi 4: Bangkit dari ruku’ (I’tidal) Gerakan ini me-nyebabkan darah segar yang bergerak naik ke batang tubuh saat ruku’ akan kembali ke keadaan semula dengan membawa toksin. Tubuh menjadi santai kembali dan melepaskan ketegangan. Posisi 5: Sujud Secara ilmiah sujud dapat menye-babkan otot-otot menjadi besar dan kuat terutama otot-otot dada, sehingga terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh dada tidak kuat. Lutut yang membentuk sudut yang tepat memungkinkan otot perut berkembang dan dapat mencegah pembesaran di bagian tengah perut. Sujud juga menyebabkan 20 % oksigen yang ada pada tubuh akan mengalir ke otak, sehingga aliran darah dalam otak semakin lancar. Sujud dapat pula memperlancar aliran darah ke bagian atas tubuh terutama kepala (mata, hidung, dan telinga) serta paru-paru yang memungkinkan toksin-toksin dibersihkan oleh darah. Ternyata sujud dapat mengurangi tekanan darah tinggi dan menambah elastisitas tulang. Pada saat sujud, semua otak akan berkontraksi, bukan saja otot menjadi besar dan kuat, tapi urat-urat darah sebagai pembuluh nadi (arteria), pembuluh darah balik (venae), serta urat-urat getah bening akan terpijat atau terurut. Sehingga peredaran darah dan lympa akan lancar. Disamping itu membantu kelancaran kerja jantung dan menghindarkan pengerutan dinding-dinding pembuluh darah (arterio-scelerosis). Gerakan sujud juga dapat mengahasilkan energi panas yang dibutuhkan oleh proses pencernaan makanan oleh tubuh. Satu hal lagi, bahwa adalah merupakan esensi dari ibadah shalat. Posisi 6: Duduk di antara dua sujud (tasyahud Awwal/Duduk iftirasy) Sikap ini dapat membantu meng-hilangkan efek racun pada hati dan merangsang gerakan paristaltik usus besar, serta akan membantu proses pencernaan dengan mendesak turun isi perut. Posisi 7: Sujud ke dua setelah duduk Iftirasy Pengulangan sujud yang lama dalam beberapa detik dapat membersihkan sistem pernafasan, peredaran darah dan saraf, juga penyebaran oksigen ke seluruh tubuh akan lebih lancar dan menciptakan keseimbangan sistem saraf simpatik dan para simpatik. Posisi 8: Tasyahud Akhir/duduk Tawaruq Posisi ini hampir sama manfaatnya dengan dengan posisi 6 (duduk Iftirasy). Pada kedua sikap duduk ini, sebenarnya kita duduk dengan otot-otot pangkal paha. Dimana di dalamnya terdapat salah satu saraf pangkal paha yang besar yaitu di atas kedua tumit kita, tumit dilapisi oleh sebuah otot yang berfungsi sebagai bantal, sehingga tumit menekan otot-otot pangkal paha serta saraf pangkal paha dan pijatan atau tekanan tersebut ternyata dapat menghindarkan atau menyembuhkan penyakit saraf pangkal paha (neuralgia) yang terasa sakit, nyeri dan sengal. Kesimpulannya, jika shalat kita kerjakan dengan sebenar-benarnya (sesuai gerakan dan syari’at), Insya Allah ia dapat melindungi, mencegah bahkan meyembuhkan dari sekumpulan penyakit ringan maupun berat.
Syukur Membawa Nikmat
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ “ Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri ; Barangsiapa yang tiada bersyukur (kufur) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji . ” (Q.S. Luqman: 12) Allah SWT telah memberikan kenikmatan yang tiada terhitung kepada kita. Antara lain nikmat berupa penciptaan manusia beserta kebituhannya, juga rasa kasih sayang yang ditanamkan ke dalam hati kedua orang tua kita pada saat kita masih kecil dan membutuhkannya. Tidak kalah besarnya adalah nikmat Allah SWT berupa panca indra, umur, pikiran dan kelengkapan tubuh lainnya, sehingga membedakan manusia dari makhluk lain . Petunjuk ke arah kebenaran serta nikmat berupa kesehatan, baik kesehatan tubuh maupun jiwa kita, juga merupakan nikmat yang tiada ternilai harganya. Sedangkan berbagai macam ciptaan-Nya di atas bumi ini juga merupakan nikmat. Pendek kata, hamparan daratan dan lautan dipenuhi dengan nikmat Allah SWT yang disediakan bagi kita. Walaupun kita jadikan air lautan untuk jadi tinta dan semua ranting dan batang kayu menjadi tangkai penanya, dan kita gunakan untuk menulis nikmat Allah yang telah dicurahkan kepada kita, maka belumlah akan dapat terhitung jumlah nikmat Allah SWT yang kita gunakan setiap hari, mulai dari terbutnya matahari sampai terbenamnya dan hingga terbit lagi. Namun manusia banyak yang tidak mensyukuri bahkan mengingkari penciptanya, disebabkan kecongkakan dan kepongahan mereka. Umumnya manusia suka alpa. Maksudnya, ketika mereka dalam keadaan sejahtera atau senang, mereka hanya melihat ke depan, lalu bila dalam kekurangan barulah mereka menghitung-hitung, atau ketika mereka mendapat kebaikan mereka berbangga atas keberhasilan pribadi, namun bila mereka tersandung kemalangan lalu menggerutu atau menyadari takdir Allah SWT. Sesungguhnya nikmat dan karunia Allah SWT tidak akan terasa banyak, berlimpah ruah kecuali adanya rasa syukur. Mensyukuri nikmat akan menambah nikmat yang lebih banyak serta dapat memelihara nikmat yang telah ada. Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7) Rasa syukur pada setiap orang pasti ada. Yang jarang adalah kemampuan seseorang untuk menampakkan rasa syukurnya ke dalam amal ibadah, amal sosial dan budi pekerti. Bila ada pribadi yang mampu berlaku sabar, tabah pasa saat krisis hidup, mengapa seseorang harus kehilangan syukur pada saat-saat mereka menemui kebahagiaan hati? Allah SWT telah melebihkan sebagian hamba-Nya atas sebagian yang lain disebabkan beberapa rahasia dan nikmat tersembunyi, yang tidak akan bisa diketahui seseorangpun kecuali Dzat-Nya semata. Dalam perbuatan-Nya itu juga terkandung banyak manfaat dan maslahat bagi hamba-hamba itu sendiri, yang tidak disingkapkan rahasianya kepada mereka. Lantaran itu sebaiknya setiap hamba bersikap ridha terhadap bagian yang telah ditentukan Allah SWT atasnya (qana’ah) dan tidak lupa mensyukuri segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya. Tanda syukur adalah memandang besar sesuatu nikmat, sekalipun nikmat itu kecil adanya, serta memandang keagungan penganugerahnya, yakni Allah SWT.
Dalam pada itu, sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahkan berbagai nikmat kepada hamba-Nya yang semua itu tak terhitung banyaknya. Setiap hamba tidak akan mampu menghitung nikmat yang telah diterimanya setiap hari, apalagi untuk bersyukur kepada Allah atas setiap nikmat yang diberi. Bila kita sempat atau sengaja menoleh ke belakang, kemudian dapat menghitung berapa langkah perjalanan hidup yang telah dilalui, maka perhitungan pasti menunjukkan bahwa kita telah memiliki kemajuan. Dahulu kita dilahirkan tanpa sesuatu, kini segalanya telah berbeda, baik umur, pengalaman, ilmu dan sebagainya. Betapapun miskinnya seseorang, sebenarnya ia adalah orang yang beruntung. Allah SWT telah menciptakannya sebagai manusia, di atas segala makhuk yang lain. Syukur adalah mensucikan Allah SWT, meng-Esa-kan-Nya, baik Esa dalam beribadah maupun dalam memujinya. Karena itulah Allah SWT mengaitkan antara syukur dengan zikir. Sebagaimana firman-Nya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al Baqarah: 152) Mensyukuri nikmat Allah SWT dilakukan dengan hati, ucapan dan anggota adan. Syukur dengan hati adalah menunjukkan kecintaan kita kepada Allah SWT, yang diwujudkan melalui ibadah kepada-Nya, beriman akan sifat-sifat kesempurnaan Allah SWT, adalah mengimani bahwa Dia-lah pemberi nikmat dan rezki serta menyatakan bahwa tiada tuhan selain Dia. “Laa ilaaha Illallah. ” Sedangkan syukur dengan ucapan (lisan) dilakukan dengan memuji keagungan-Nya. Kemudian dengan bebicara yang baik serta mencegah ucapan yang tidak bermanfaat. Dan bersyukur dengan anggota badan maksudnya adalah anggota badan dipergunakan untuk mengantar seseorang ke arah perbuatan yang bai sesuai perintah-Nya serta meninggalkan larangan-Nya. Meskipun manusia ingkar akan nikmat Allah SWT, dan tidak bersyukur kepada-Nya, namun Allah SWT tetap Maha Kaya dan Maha Mulia. Jika manusia mau bersyukur dan beribadah dengan penuh keikhlasan, semua itu tidak akan menambah kekayaan Allah SWT . Sebaliknya, jika mereka kafir, kekayaan Allah SWT tidak akan berkurang sedikitpun. Itulah sebabnya, maka Allah SWT menyatakan jika manusia itu bersyukur, syukur tersebut akan kembali kepada diri manusia itu sendiri berupa tambahan nikmat. Dan jika mereka kafirm kepada-Nya, peruatan itupun akan kembali kepada manusia itu sendiri. “Pergunakanlah lima kesempatan sebelum datang lima kesempitan: Pergunakan sehatmu sebelum datang sakitmu. Pergunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sempitmu. Pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Pergunakanlah masa kayamu sebelum datang masa faqirmu. Pergunakanlah kesempatan masa hidupmu sebelum datang saat kematiamu.” (HR. Baihaqi) Keutamaan Berbuat Jujur
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kalian beserta orang-orang yang jujur. ” (Q.S. At Taubah: 119) Seorang muslim adalah seorang yang jujur. Dia mencintai kejujuran melazimkannya lahir batin di dalam hati (Shidqul qalb), ucapan (Shidqul hadits) dan perbuatan (Shidqul ‘amal), karena kejujuran merupakan kebaikan, dan kebaikan menunjukkan kepada surga. Surga merupakan tujuan yang paling mulia bagi seorang muslim dan merupakan tujuan yang paling diidam-idamkannya. Adapun kebalikan dari jujur adalah dusta. Sifat ini menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan menunjukkan kepada neraka, sedangkan neraka merupakan hal yang paling ditakuti seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur (shidiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan,akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab).” Sesungguhnya orang yang telah mengenal kejujuran dan menetapkan janji, orang-orang akan cinta kepadanya; dan mereka mencintai perilakunya. Apabila ia seorang yang alim, mereka akan mengambil manfaat ilmunya dan merekapun akan menghormatinya. Andaikata ia seorang pedagang, mereka akan mempercayai usahanya. Sesungguhnya hanya terletak pada kejujuranlah seorang pengusaha akan sukses; seorang pekerja akan meraih keberhasilan, seorang pedangang mampu maraih keuntungan. Sesungguhnya kejujuran adalah budi pekerti yang sangat kuat kaitannya dengan kemaslahatan perorangan atau jama’ah dan merupakan sisi yang paling kuat untuk membenahi dan membina masyarakat dan menerapkan serta menegakkan aturan-aturannya. Menghias diri dengan kejujuran adalah keutamaan, dan melepas diri daripadanya adalah kehinaan. Kejujuran adalah tanda keimanan dan kesucian jiwa serta suatu tanda dari keselamatan kita. Kejujuran yang menunjukkan keindahan sifat dan ketinggian moral seseorang. Kejujuran juga membentuk pelakunya menjadi cinta kepada allah SWT dan cinta kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin. Seorang muslim tidak hanya melihat kejujuran sebagai akhlak mulia saja melainkan memandangnya lebih dari pada itu. Seorang muslim memandang kejujuran sebagai penyempurna iman dan keislaman. Sesungguhnya Al Qur’an menegaskan bahwa Allah SWT akan melaknat orang yang pendusta. Apakah kita rela menjadi seorang yang dilaknat Allah SWT, padahal kita mempelajari dienul Islam. Wahai orang-orang yang beriman. Berusahalah menjadi orang yang selalu bersifat jujur dalam segala perbuatan dan pembicaraan sebab sesungguhnya dusta itu adalah perbuatan yang buruk dan tercela. Janganlah berdusta untuk memperoleh nama baik di mata manusia, karena apabila mereka mengetahuinya niscaya mereka tidak akan mempercayaimu, mungkin untuk selamanya. Sekalipun apa yang engkau sampaikan itu benar. Pribahasa mengatakan “sekali lancung keujian seumur hidup orang tak kan percaya”. Kalau sudah demikian, sulit untuk mengembalikan kepercayaan orang lain. Sesungguhnya orang yang berkata benar dan jujur dalam segala hal akan disayang Allah dan dipercaya oleh masyarakat atau orang lain. Karena itu berusahalah untuk selalu memelihara kejujuran. Hindari perbuatan dusta, sekalipun perbuatan itu dapat menyelamatkan dirimu. Berikut ini adalah tanda-tanda kejujuran: Jujur dalam setiap ucapan. Seorang muslim hendak-nya tidak berbicara kecuali dengan perkataan yang benar dan jujur. Apabila kita memberitahukan sesuatu hendaknya kita memberitakan kejadian yang sebenarnya, karena berdusta dalam berbicara termasuk tanda-tanda kemunafikan. Jujur dalam berkehendak. Seorang muslim hendak-lah tidak ragu dalam melakukan sesuatu. Hendaknya kita melakukan pekerjaan tanpa menoleh kepada sesuatu perbuatan yang lain, atau tergoda oleh pekerjaan yang lain sehingga pekerjaan pertama tidak sempurna. Jujur terhadap janji. Apabila seorang muslim berjanji dengan orang lain, hendaklah memenuhi apa yang telah kita janjikan. Perlu diingat bahwa mengingkari janji termasuk tanda kemunafikan Jujur dalam berbagai hal. Seorang muslim tidak boleh menunjukkan sesuatu yang tidak ada padanya. Kita tidak boleh bertindak yang tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam batin kita. Juga tidak memakai tipu daya serta tidak menbebani diri dengan sesuatu yang tidak mampu untuk dilakukan. Berikut ini adalah buah kejujuran yang dirasakan oleh orang-orang yang melakukannya: Bergembira dan mempu-nyai jiwa yang tenang, hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW “Kejujuran adalah ketenangan.” (HR. Tirmidzi). Membawa berkah dalam mencari rezki. Akan mencapai derajat para syuhada, dan selamat dari kebencian Kejujuran dapat membentuk manusia saling percaya mempercayai dan saling berkasih sayang diantara mereka. Akan tetapi manakala kejujuran telah lenyap dalam diri seseorang, maka akan datanglah kedustaan merasuk ke dalam jiwanya. Lalu timbullah dari padanya sifat kemunafikan, penipuan, pengkhianatan, riya’an kemudian menyalahi janji. Sesungguhnya Allah SWT sudah memperingatkan akan kesudahan atau akibat dari kedustaan. Ingatlah, sesesungguhnya orang yang selalu berbuat jujur, setiap perkataan dan perbuatannya akan selalu dibuat dalil, sekalipun tanpa mengetahui dalil yang sebenarnya (Al Qur’an dan Hadits). Dia akan selalu diajak bermusyawarah dan dimintai pendapatnya dalam menyelesaikan suatu masalah. Jika ingin mendapatkan kepercayaan itu, maka selalulah berlaku jujur dalam segala hal. Oleh karena itu marilah kita selalu bertaqwa kepada Allah SWT dan senantiasa berlaku jujur. Karena kejujuran adalah kunci segala kebaikan dan jalan menuju keridhaan Allah SWT serta jalan menuju sorga. Dan marilah kita selalu menjauhkan diri dari kedustaan karena kedustaanlah kunci segala kejahatan dan jalan menuju kemurkaan Allah SWT dan membawa pelakunya ke arah neraka. Allahu A’lam Bissawab Kejujuran : Moral Utama dalam Membina Ummat
عَليَْكم بالصِّدْقِ فَإنَّ الصِّدْقَ يَهْدى إِلى البِرِّ، وَ البِرُّ يَهْدى إلى الجَنَّةِ، وما يَزَال الرَّجُلُ يَصْدِقُ و يَسْحَرَّى الصِّدْقَ حَتى يُكْتَبُ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا. و إِيَّاكُمْ و الكَذِبَ فإنَّ الكَذِبَ يَهْدِى إلى الفُجُوْرِ و إنَّ الفُجُوْر يَهْدِى إلى النَّارِ وَمَا يَزَالُ العَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَسْحَرُّ الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ الكَذَّابًا. “ Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke sorga. Seorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur (shidiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan, akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab). (H.R. Bukhari) Salah satu dari sekian sifat dan moral utama seorang manusia adalah kejujuran. Karena kejujuran merupakan dasar fundamental dalam pembinaan umat dan kebahagiaan masyarakat. Karena kejujuran menyangkut segala urusan kehidupan dan kepentingan orang banyak. Kepada manusia Allah SWT memerintahkan agar mempunyai perilaku dan sifat ini. Rasulullah SAW adalah merupakan contoh terbaik dan seorang yang memiliki pribadi utama dalam hal kejujuran. Kejujuran memang akhlak utama para nabi dan rasul. Dan demikian pula akhlak para generasi pertama dan utama umat ini, mereka senantiasa berpegang teguh kepada kebenaran dan kejujuran dalam segala aspek kehidupan. Bukan saja dalam urusan kemasyarakatan, namun juga dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga termasuk pergaulan dengan anak-anak mereka. Abu Hurairah r.a meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Barangsiapa yang berkata kepada seorang anak, “Mari nak, ambillah kurma ini”, lalu dia tidak memberikannya, maka ia telah mendustainya.” (HR. Ahmad) Dengan tuntunan seperti itu, Rasulullah SAW hendak memberi pelajaran kepada para orang tua dan para pendidik, supaya mereka menanamkan sifat utama ini kepada anak-anaknya semenjak kecil. Sehingga ketika mereka menjadi dewasa mereka tetap memiliki watak dan kebiasaan ini. Melalui cara ini diharapkan kelak akan lahir generasi Islam yang utama, yang akan memberikan kebahagiaan hidup dan membangkitkan kesadaran bangsa. Islam menaruh perhatian serius terhadap moral terpuji ini. Islam selalu mengajak dan mendorong manusia agar memilikiwatak ini, sebaliknya Islam tidak menyukai dan bahkan memperingatkan manusia agar menjauhi dusta dan ketidak jujuran. Karena dusta adalah merupakan salah satu perangai yang bernilai rendah dan tercela. Karena dusta, hukum-hukum menjadi rusak, kehormatan terinjak-injak dan berbagai kejahatan merajalela. Berita bohong seringkali mengakibatkan terputusnya hubungan persaudaraan dan menimbulkan konflik yang tak berhujung sesama manusia. Isu bohong tidak sedikit membuat seseorang kehilangan harga dirinya. Salah satu bukti bahwa betapa Islam sangat mencela dusta adalah bahwa Islam sangat mencela saksi palsu yang dapat mengakibatkan hukum dapat diperjual belikan. Dan menurut Islam, saksi palsu adalah salah satu dari bagian kesalahan yang sangat fatal dan dosa besar. Kesaksian dusta kadang-kadang dilakukan orang karena beberapa sebab. Antara lain karena hubungan yang tidak baik, karena kasihan kepada kawan, karena terlalu benci kepada lawan, karena takut kepada atasan atau karena ada udang di balik batu. Demi menegakkan kebenaran dan kedamaian di muka bumi ini, Tuhan memerintahkan kepada kita menjadi saksi yang jujur dan adil, dan mengutamakan penegakan kebenaran. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapakmu dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran, dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segal apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. An Nisaa’: 135) Memang sangat disadari bahwa menjadi orang yang jujur merupakan pilihan yang sungguh berat sekali di tengah arus budaya yang penuh dengan kepalsuan, kedustaan, kemunafikan dan ketidak-jujuran, dimana orang sangat sulit sekali dipegang kata dan janjinya. Padahal kejujuran tidak hanya mencerminkan integritas kepribadian seseorang, tetapi juga menjadi pesona bagi sesama dan mengundang datangnya ketenangangan bagi pelakunya. Dalam siratan hadits-hadits Rasulullah SAW akan kita dapatkan petuah tentang betapa berartinya makna sebuah kejujuran. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk meninggalkan apa yang kita ragukan dan mengerjakan apa yang kita yakini. Dan bahwasanya kejujuran itu akan menimbulkan ketenangan juwa sedangkan dusta selalu saja membuat jiwa pelakunya bimbang dan goncang. Maka tidak aneh bila kita sering menjumpai orang yang memiliki harta benda; kekayaan yang melimpah namun sangat disayang ia tidak pernah menemui kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Hal ini boleh jadi dikarenakan harta benda yang melimpah ruah itu dihasilkan dari jalan yang tidak benar atau dari hasil ketidak-jujuranya. Sedemikian berbahayanya sikap dusta dan ketidak-jujuran, maka Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW mengingatkan kepada kita para hamba dan umatnya untuk senantiasa memelihara dan menjaga sifat yang mulia ini, yakni kejujuran. Apalah arti kehidupan ini jika tidak dihiasi dengan kejujuran. Apalah arti limpahan harta yang banyak jika semua itu bukanlah hasil tetesan keringat kejujuran. Maka tanamkanlah kejujuran dalam dirikita, karena kejujuran adalah salah satu pondasi utama dalam membangun bangsa. Karena, betapapun besarnya sebuah bangsa, tetapi jika kejujuran telah sirna, maka hancurlah bangsa itu. Shalat membentuk Sumber Daya yang Utama
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila telah selesai shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Allah, sebutlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian memperoleh keberuntungan.” (Q.S. Al Jumu’ah: 10) Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk senantiasa memacu diri dalam meraih karunia yang telah Allah limpahkan kepada mereka. Diantara cara yang mudah itu dilakukan oleh manusia dalam mencari rezki yang Allah tebarkan di muka bumi ini adalah dengan cara bekerja dan berusaha. Bekerja merupakan sebuah keniscayaan, tidak mungkin kita menjalani hidup tanpa bekerja dan berusaha. Namun demikian, bekerja dan berusaha yang nantinya akan menghasilkan sesuatu, diantaranya bersifat materi (uang) haruslah dilakukan dengan cara yang benar, agar hasil yang diperoleh mendapat berkah dan diridhai oleh Allah SWT. Karena itu dalam Islam dikenal istilah “halal-haram” yang akan menilai kerja atau usaha apa yang dihasilkan darinya. Al Qur’an telah menetapkan konsep dasar halal dan haram yang berkenaan dengan transaksi dalam hal yang berhubungan dengan akuisisi (perolehan/pemerolehan), disposisi (penempatan) dan semacamnya. Semua yang menyangkut dan berhubungan dengan harta dan benda hendaknya dilihat dan dihukumi dengan dua kriteria; halal dan haram. Allah SWT memerintahkan agar manusia mencari rezki dengan cara yang dihalalkan oleh Allah dan memerintahkan manusia agar tidak memakan sesuatu kecuali yang dihalalkan oleh-Nya dan harus yang bersumber dari sesuatu yang halal. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bgimu, dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (Q.S. Al Maidah: 87-88) Salah satu prinsip yang telah diakui oleh Islam, ialah apabila Islam telah mengharamkan sesuatu, maka wasilah dan cara apapun yang dapat membawa kepada perbuatan haram, hukumnya adalah haram. Dari sinilah maka para ulama fiqih membuat suatu qaidah: “ Apasaja yang membawa kepada perbuatan haram, maka itu adalah haram. ” Qaidah ini senada dengan apa yang diakui oleh Islam, yaitu bahwa dosa perbuatan haram tidak terbats pada pribadi pelakunya itu sendiri secara langsung, tetapi meliputi daerah yang sangat luas sekali, termasuk semua orang yang bersekutu dengannya, baik melalui harta maupun sikap. Masing-masing mendapat dosa sesuai dengan keterlibatannya. Misalnya tentang arak (minuman atau sesuatu yang memabukkan). Rasulullah SAW melaknat sepuluh orang yang terlibat dalam hal pengadaan dan peredaran arak. Sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Majah: “Rasulullah SAW melaknat tentang arak sepuluh golongan: (1) Yang memerasnya, (2) Yang minta diperaskan, (3) Yang meminumnya, (4) Yang membawanya, (5) Yang meminta dihantarkan, (6) Yang menuangkannya, (7) Yang menjualnya, (8) Yang memakan hasil penjualannya, (9) Yang membelinya, (10) Yang minta dibelikan.” Kemudian dalam dunia kerja dan usaha, Islam pada prinsipnya tidak melarang suatu pekerjaan atau usaha, kecuali ada unsur-unsur kezhaliman, penipuan, penindasan dan mengarah kepada sesuatu yang dilarang oleh Islam. Misalnya, Allah SWT mengharamkan perjudian dan meramal atau mengundi nasib, sebagaimana firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatn syethan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al Maidah: 90) Bahaya yang akan muncul akibat perjudian dapat disebutkan antara lain: Menimbulkan permusuhan dan pertengkaran sesama pemain judi. Menghalangi dari zikir dan shalat. Meresahkan dan merusak masyarakat. (Dengan munculnya tindak kriminal seperti perampokan, pencurian dan sebangsanya, untuk mencari modal yang akan dipertaruhkannya di meja judi). Menimbulkan kelemahan mental, hilangnya semangat bekerja (pemalas) dan Meningkatkan jumlah pengangguran. Meruntuhkan rumah tangga. Menghabiskan harta benda dengan cara sia-sia. Menimbulkan beban hutang. (Penjudi yang kalah tertuntut untuk membalas kekalahannya. Sehingga ia tak segan-segan berhutang mencari modal untuk kembali berjudi). Dan masih banyak lagi. Ada pula manusia yang takut miskin dan ingin kaya dengan dara pintas, sehingga ia melakukan pencurian (maling) dengan cara sembunyi-sembunyi. Cara ini mungkin dikatakan dengan cara korupsi. DR. Amien Rais dalam bukunya Suksesi & Keajaiban Kekuasaan mengatakan, “Orang sering mengatakan bahwa korupsi terdiri dari tiga jenis, yakni korupsi ekstraktif, korupsi manifulatif, dan korupsi nepotistik. Yang pertama merupakan pemaksaan terhadap seseorang untuk membayar suap (sogok) agar semua urusan lancar (KUHP: Kasih Uang Habis Perkara Atau UUD: Ujung-ujungnya Duit); Yang kedua setiap usaha kotor untuk mempengaruhi pengambilan keputusan penting, dan yang terakhir berhubungan dengan penyalahgunaan kekeluargaan dalam berbagai eselon kehidupan nasional. Di Indonesia ketiga jenis korupsi ini sangat subur. Dalam bekerja dan berusaha, niat pertama selain mencari rezki adalah ibadah dalam rangka menggapai ridha Allah. Sehingga apa yang dihasilkan dari kerja dan usahanya itu mendapat berkah dari Allaj SWT. Yang jelas prilaku yang diridhai Allah akan selalu mendapatkan berkah-Nya, sebaliknya setiap perilaku, kerja dan usaha yang tidak diberkahi akan menuai malapetaka. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari pekerjaan dan memakan apa yang telah diharamkan Allah SWT. Amin “Daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram tidak akan bertambah kecuali neraka yang pantas baginya.”(HR. Tirmidzi) LABBAIKALLAHUMMA LABBAIK
Oleh : Buya H Mas'ed Abidin
“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian dari padanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (Q.S. Al Hajj: 26-29) Panggilan haji bermula dari perintah Allah melalui Abul Anbiyaa’ Ibrahim ‘alaihissalam. Sebagaimana yang termaktub dalam Al Qur’an surat Al Hajj ayat 27”: “Dan kumandangkan panggilan kepada manusia untuk melaksanakan hajji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang dating dari segenap penjuru yang jauh”. Seruan ini adalah pangg ilan untuk menunaikan kewajiban ibadah haji ke Baitullah di kota Makkah Al Mukarramah. Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir (juz kelima halaman 252) dapat ditemukan keterangan sebagai berikut: Firman Allah Ta’ala, “Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji”. Yakni ajaklah manusia untuk berhaji ke Baitullah yang telah Kami suruh kamu untuk mendirikannya. Diceritakan bahwa Nabi Ibrahim bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku menyampaikan seruan kepada manusia, sedang suaraku tidak akan sampai?”Allah menjawab, “Serukanlah, dan tugas Kamilah menyampaikan seruan itu”. Kemudian Nabi Ibrahim berdiri di atas Maqam. Ada pula yang menyebutkan bahwa dia berdiri di atas batu, katanya di atas bukit Shafa, dan katanya lagi di atas bukit Abi Qubais. Nabi Ibrahim berseru, “Wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu telah membuat sebuah rumah. Maka berhajilah ke rumah itu”. Diceritakan bahwa gunung-gunung merendah sehingga suara itu menembus ke berbagai penjuru bumi dan suara itu diperdengarkan Allah kepada orang yang berada di dalam rahim dan sulbi. Segala perkara yang mendengarnya, seperti batu dan pepohonan, menjawabnya. Demikianlah kandungan keterangan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair dan ulama salaf lainnya yang tidak hanya seorang. Allahu a’lam. Panggilan itu dijawab oleh para hijjaj dengan bertalbiah : لبيك اللهم لبيك ... لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك "Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu. Segala puji dan keagungan nikmat hanya milik-Mu semata. Segenap kerajaan pun milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu". Jama’ah haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, dan mereka memperkenankannya. Mereka memohon kepada-Nya dan Dia mengabulkan permohonan mereka. Kalimat dalam talbiah sangat sarat dengan nilai-nilai kemuliaan. Diantaranya adalah : 1. Ungkapan rasa syukur atas anugerah isthitha’ah. Rezki yang penuh berkah, kesehatan jasmani dan rohani, kematangan iman, keselamatan dan kemudahan dalam urusan dan perjalanan. Dan pengakuan bahwa puji dan syukur hanya milik Allah SWT semata. 2. Ungkapan rasa syukur dapat memenuhi panggilan Allah dengan menunaikan ibadah haji, menjadi salah seorang dhuyufurrahman. 3. Ungkapan ketaatan dalam memenuhi perintah dan panggilan Allah SWT. 4. Ungkapan keimanan akan ke-Esa-an Allah SWT. Bahwa hanya Allah semata yang berhak dan wajib disembah. 5. Ungkapan pengakuan kehambaan seorang hamba kepada pemilik segenap kerajaan langit dan bumi. Setelah Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyeru manusia untuk menunaikan ibadah haji, maka kita akan dapati, bahwa tidak seorang manusia (muslim) pun yang tidak pernah mendengar adanya panggilan itu. Tidak seorang manusia (muslim) pun yang tidak mengetahui adanya kewajiban memenuhi panggilan itu. Maha Besar Allah. Ibadah haji sudah sedemikian populer di kalangan umat sehingga ia termasuk dalam kategori apa yang dinamai ma’luumun min ad-din bi al-dharuurah (pengetahuan dalam perkara agama pada tingkat aksioma) sehingga tidak ada alasan yang dapat dikemukakan untuk berkata, "Saya tidak tahu". Pada hakekatnya, semua orang telah mendapat panggilan haji. Hanya saja sikapnya yang berbeda-beda dalam menghadapi panggilan ini. Ada yang ingin memenuhinya, bahkan sangat berharap untuk dapat melaksanakannya, namun apa daya, ia belum memiliki kemampuan (ishthitha’ah) untuk itu, ada yang memenuhinya karena ia sadar bahwa Allah telah menganugerahkan kepadanya kemampuan (ishthitha’ah) untuk melaksanakannya; ada yang ingin dan mampu namun ada aral yang melintang sehingga maksudnya tidak tercapai; ada pula yang mampu, kesempatan terbentang baginya, tapi hatinya tidak tergerak untuk melakukannya, langkahnya justru menjauh, bahkan tanpa malu ia berdalih, "Saya belum mendapat panggilan" ? Subhanallah, kita khawatir, orang ini akan mendapat murka berganda : pertama, karena keengganannya memperkenankan panggilan, dan kedua, karena dalihnya mengingkari sampainya panggilan itu kepadanya. Al Qur’an, As Sunah dan ijma’ para ula menetapkan bahwasanya menunaikan ibadah haji adalah fardhu ‘ain bagi muslim dan muslimat yang sanggup mengerjakannya. Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman : "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam". (Q.S. Ali Imran : 97) "Hai manusia, Allah telah mewajibkan haji kepadamu, maka lakasanakanlah haji". Seorang laki-laki (Al Aqra’ ibnu Habits) berkata, "Apakah setiap tahun, ya Rasulullah ?" Rasulullah terdiam, sehingga laki-laki itu bertanya tiga kali. Lalu Nabi menjawab, "Andai kukatakan wajib setiap tahun, maka ia menjadi wajib dan kamu tidak akan mampu mengerjakannya." (H.R. Muslim, Ahmad, dan Nasa’i) Islam sangat menganjurkan kepada setiap individu muslim yang telah dianugerahi Allah kemampuan untuk segera melaksanakan ibadah haji. Rasulullah saw. Bersabda : Dari Ibnu Abbas telah bersabda Nabi saw ; "Hendaklah kamu bersegera mengerjakan haji, maka sesungguhnya seseorang tidak akan mengetahui sesuatu halangan yang merintanginya." (H.R. Ahmad) Kita berdoa semoga saudara-saudara kita yang memenuhi panggilan haji pada musim haji tahun ini pergi dan kembali dengan selamat, selalu dalam lindungan Allah dan mendapat haji yang mabrur, amin ya Rabbal ‘alamin. Allau a’lam. RAHASIA IBADAH HAJI “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan dating kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. (Q.S. Al Hajj: 27) Kata haji atau al hajju dalam bahasa Arab berarti al qashdu atau menuju, yaitu perjalanan menuju Baitullah untuk melaksanakan sernagkaian manasik haji mulai dari ihram, tawwaf, sa’i, wuquf, dan seterusnya. Perintah Allah untuk melaksankan haji ke Baitullah sudah ada sejak masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sebagaimana anjuran Allah dalam firman-Nya di atas. Dalam kisah Nabi Ibrahin tersebut, Ibnu Abbas meriwayatkan : "Tatkala Ibrahim telah selesai membangun rumah, ia berkata : Ya Tuhan, sungguh aku telah selesai dari tugas ini, maka Allah berfirman, "Serukanlah kepada umat manusia untuk melaksanakan haji". Ibrahim berkata, "Ya Tuhan, suaraku tidak akan sampai kepada mereka." Allah berfirman : "Bagimu cukup menyerukannya dan Aku yang akan menyampaikannya". Ibrahim berkata : "Ya Tuhan bagaimana aku mengatakannya ?" Allah berfirman: "Katakanlah : Wahai sekalian manusia, sungguh telah diwajibkan atasmu melaksanakan ibadah haji ke Baitul ‘Atiq, maka penduduk langit dan bumi pun mendengar seruannya, bukankah kamu telah melihat bahwa manusia berbondong-bondong datang dari penjuru negeri menyahut seruannya". Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hampir saja berputus asa atas perintah Allah ini, karena pada saat itu tidak ada satu manusia pun di sekitar kota Mekkah tersebut, umurnya sudah tua tidak memungkinkan lagi untuk berteriak memanggil orang yang jauh dari tempat itu, namun, Allah tetap meyakinkan Ibrahim, "Wahai Ibrahim, bagimu cukup untuk menyampaikan seruan itu, dan Akulah yang akan menyampaikan seruan tersebut sampai keseluruh pelosok dunia ini". Maka berangkatlah Nabi Ibrahim menuju Jabal Qubais, tempat yang tinggi disisi Ka’bah, dan berserulah Nabi Ibrahim di kesendiriannya, menyeru umat manusia dengan maksud agar ada orang yang datang menunaikan ibadah haji menuju Baitullah tersebut, atas dasar perintah Allah, walaupun tidak ada seorang manusia pun di sekitar tempat tandus itu. Ajakan untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah tetap berlaku hingga hari Kiamat. Ia adalah ajakan Abul Anbiya’ Ibrahim ‘Alaihissalam, berdasarkan perintah Allah Ta’ala, seperti dalam firman-Nya : "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah". (Q.S. Ali Imran : 97) Ketika Rasulullah saw. Datang di kota Mekkah, beliau mencoba untuk menghapuskan tradisi-tradisi jahiliah yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada musim-musim haji itu, hal itu beliau lakukan bersamaan dengan penghancuran berhala-berhala yang terdapat di sekeliling Ka’bah. Dengan demikian, ibadah haji ini dapat kembali bersih dari tradisi-tradisi yang bathil dan dari berbagai bentuk kekufuran dan kemusyrikan , dan kembali bresih dan memancarkan cahaya tauhid serta dilakukan atas dasar ‘ubudiyah secara mutlak kepada Allah Subhanahuwata’ala. Allah menjadikan syarat untuk melaksanakan ibadah haji dengan kesanggupan dalam berbagai segi, baik kesiapan lahir maupun batin, karena tidak sedikit orang yang sanggup dan mampu dalam hal materi, namun ia belum sanggup secara batin. Perjalanan ibadah haji memang memerlukan pengorbanan materi yang cukup besar, bahkan ada dari calon tamu Allah ini yang menjual ‘hampir’ dari seluruh hartanya demi untuk dapat menjadi salah satu dari jutaan manusia yang akan menjadi tamu pilihan Allah, dalam melaksanakan ibadah haji ini. Perjalanan haji, sebagaimana perjalanan lainnya memerlukan bekal yang cukup, baik dari kesiapan fisik dan mental yang kuat, juga harus dengan bekal ilmu yang cukup diseputar amalan-amalan haji tersebut. Dengan demikian, seseorang yang melakukan perjalanan ibadah haji ini betul-betul menghayati dan menjiwai setiap amalan haji yang ia lakukan, karena hampir setiap amalan haji yang dilakukan memiliki nilai tersendiri dalam diri dan jiwa. Banyak dari amalan haji yang kembali kepada sejarah perjalanan dan pengorbanan dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya. Sebagai contoh, seseorang jangan hanya sekedar melakukan Sa’i saja antara bukut Shafa hingga bukit Marwa, namun tidak mengetahui asal usul amalan tersebut, yaitu bagaimana pengorbanan Siti Hajar berlari-lari antara dua bukit tersebut, di tengah-tengah padang pasir yang tandus dan panas, demi mencari seteguk air buat anaknya Ismail, demi untuk kelangsungan hidup mereka, itulah salah satu bentuk dari perjuangan seornag ibu demi anaknya. Pengetahuan seperti ini sangat perlu untuk diketahui bagi setiap calon jamaah haji, karena kondisi kota Mekkah dan sekitarnya saat sekarang ini sudah jauh berbeda dari yang dulu. Sebgai contoh, tempat Sa’i pada saat sekarang ini sudah berada di dalam Masjidil Haram, ruangan yang ber AC dan sejuk, maka tanpa bekal ilmu dengan asal usul setiap amalan haji ini, ibadah haji ini tidak berarti apa-apa bagi yang melakukannya, karena dilakukan tanpa ilmu yang cukup, tanpa penghanyatan dan penjiwaan dalam setiap amalannya, setiap amalannya akan berlalu begitu saja. Demikian juga dengan amalan-amalan haji yang lainnya, seseorang tidak hanya sekedar melemparkan batu-batu kecil ‘melontar jumrah’ begitu saja, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang sekelilingnya, tanpa makna dan penjiwaan. Jika ia tahu bahwa pada hakekatnya Jumrah adalah simbol dari permusuhan yang abadi antara manusia dan syetan, sebagaimana Nabi Ibrahim hampir saja tergoda dengan bujukan syetan yang selalu menghalang-halanginya untuk tidak melaksanakan perintah Allah, seperti dalam peristiwa qurban. Ibadah haji merupakan titik kesempurnaan dari semua ibadah yang Allah wajibkan atas umat manusia, dan di dalamnya pun tercakup semua ketentuan dalam lima rukun Islam yang kita ketahui. Mulai dari Syahadatain, shalat, zakat, puasa dan ibadah haji itu sendiri. Para jama’ah haji dituntut untuk mengukuhkan kesaksiannya kepada Allah, pengakuan mutlak tiada tuhan yang patut disembah selain Allah, dan Nabi Muhammad benar-benar utusan Allah, menjaga setiap waktu shalat fardhu, dan memperbanyak shalat-shalat sunat, baik di Masjidil Haram, maupun di Masjid Nabawi, berinfaq dan berzakat di jalan Allah, menjaga diri dan menahan hawa nafsu untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang dalam melaksanakan ibadah haji tersebut. Seorang muslim akan sampai pada tingkat kesempurnaannya jika ia telah dapat melaksanakan ibadah haji ini dengan baik. Itulah bangunan Islam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. "Islam didirikan atas lima perkara, Kesaksian tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa dalam bulan Ramadhan, berhaji menuju Baitullah bagi yang mempu untuk melaksanakannya." (H.R. Muslim) Islam menginginkan bahwa setiap pribadi muslim mestilah memiliki lima dasar atau pondasi yang kuat. Ibarat sebuah bangunan, dengan pondasi yang kuat ini akan dapat membangun di atasnya bangunan apasaja dengan bentuk yang ia kehendaki. Antara satu dasar dengan yang lainnya saling menguatkan san saling menopang. Seorang muslim dapat dikatakan sempurna keislamannya, jika telah memenuhi kelima rukun Islam tersebut, melaksanakan kelima perintah ini dan memiliki lima pondasi yang kuat. Dengan demikian, ia tidak akan terombang ambing dalam mengarungi kehidupan ini. Harapan setiap muslim dari amalan-amalan ibdahnya termasuk ibadah haji adalah diterimanya setiap amal ibdah tersebut di sisi Allah SWT. Al Hajjul Mabrur artinya adalah Al Hajjul Maqbul (haji yang diterima Allah) dan balasannya adalah sorga. Predikat ini menjadi harapan setiap jama’ah haji sepulangnya dari Tanah Suci, apalagi bagi mereka yang hanya bermodal pas-pasan dalam hal kemampuan materi. Seorang mendapatkan haji yang mabrur adalah orang yang ketika ia pulang ke tanah air setelah selesai melaksanakan ibadah haji, lebih baik keadaannya dari sebelumnya. Ia tidak lagi kembali untuk berbuat maksiat (baik kecil maupun besar) yang pernah ia lakukan sebelumnya. Semua perkataan dan perbuatannya betul-betul atas dasar akhlakul karimah. Ia dapat menjadi contoh dari setiap perbuatan yang baik, menjadi tauldan bagi masyarakat di sekelilingnya. Mudah-mudahan bagi kita yang sudah melaksanakan ibadah haji, emndapatkan haji yang mabrur atau maqbul yang dapat dirasakan hasil itu oleh diri kita dan orang lain. Dan bagi saudara-saudara kita yang sekarang sedang melaksanakannya dapat menjalaninya dengan baik, diberi oleh Allah keselamatan lahir batin, mulai dari keberangkatan sampai kembali ke kampung halamannya, dan dengan membawa haji yang mabrur, amin. Khusus bagi kita yang belum diberi kesempatan oleh Allah untuk melaksanakannya, kita tetap senantiasa berdo’a, semoga giliran dan pilihan Allah akan sampai kepada kita pada kesempatan yang akan datang. Amin ya Rabbal ‘alamain. Allahu a’lam bi ash shawab YA ALLAH... JADI KANLAH HAJIKU... HAJI YANG MABRUR “Haji yang mabrur tidak ada ba!asan kecuali Sorga“ (H.R. Ahmad) Kaum muslimin yang telah melaksanakan rangkaian Ibadah Haji di Tanah Suci Mekkah terus berdatangan. Mereka kembali ke tanah air menuju kampung halaman masing-masing. Pelukan erat dan tangis haru mewarnai penyambutan mereka. Persis menyambut kedatangan seseorang yang baru kembali dari medan peperangan dengan membawa bendera kemenangan. Kesempatan berhaji adalah peluang untuk menyelenggarakan perbaikan diri kembali (Tajdidunnafsi). Semacam wudlu’ besar yang memungkinkan seluruh jiwa pada dimensi fisis maupun psikologis dan spritual mengalami pencucian total (Tathirunnafsi). Ibadah haji adalah sebuah “ workshop “ pencerahan diri (Tanwirunnafsi). Para pelakunya menyingkap tirai dinding kalbu, menembus kegelapan kemudian mempersiapkan diri untuk disinari oleh cahaya al haq yang terpancar dari nur Ilahi. Nur Ilahi memancar dan merambat pada empat tatanan; Intelektual (subyektifitas berfikir), spritual (kejernihan jiwa, kebersihan hati, keikhlasan & al ihsan serta kepekaan rohani terhadap atmosfir Rububyyah dan Uluhiyyah), mental (kesabaran, keseimbangan, elastisitas dan rileksitas) dan moral (integritas pribadi, intensitas sosial, dedikasi jama ‘ah dan kesantunan kemanusiaan). Di hadapan mata para pelaku ibadah haji terhampar cakrawala kemungkinan untuk mencapai mahkota kepribadian sebagai “insan kamil”. Karena mereka telah memasuki pintu gerbang ketauhidan yang penuh dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT yang kemudian mengantarkan mereka menjadi “Mukmin dan Muttaqin sejati”. Sebuah catatan kecil dari sekian banyak manfaat yang dapat dicapai oleh para hujjaj yang telah melaksanakan ibadah haji yang dapat ditulis dalam lembaran ini diantaranya adalah: Pertama, para hujjaj akan merasakan peningkatan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT, dan kecintaanya kepada Rasullah SAW pun semakin nyata. Kedua, para hujjaj sangat antusias dalam “memakmurkan” mesjid dan mereka sangat mengerti manfaat di balik sholat yang dilakukan secara berjama’ah.. Ketiga, para hujjaj sangat arif menyikapi perbedaan yang ada. Mereka sangat mengerti arti Ukhuwah Islamiyyah dan solidaritas kemanusiaan. Keempat, para hujjaj sangat mahir dalam mengendalikan hawa nafsu, menghindarkan diri dari prilaku tak bermoral, menjaga lisan dari perkataan dan ungkapan keji dan rafats, menjauhi perbuatan fasiq, mencegah diri dari pertengkaran, pertikaian, persengketaan apalagi pembunuhan. Kelima, para hujjaj sangat cinta beramal sholeh, bersedeqah, berinfaq dan berkorban. Para hujjaj sangat jauh dan sifat kikir dan bakhil. Keenam, para hujjaj sangat sabar dalam menghadapi suatu rintangan, kesulitan, derita maupun segala cobaan. Mereka sangat bijak dalam menyikapi permasalahan dan sangat sabar dalam menjalani kehidupan. Ketujuh, para hujjaj sangat pandai dalam berintropeksi diri, mempersiapkan amal untuk menghadapi kematian. Demikianlah apa yang telah mereka lakukan saat wukuf di Padang Arafah. Dengan berbalutkan kain ihram yang serba putih tak berjahit, persis satu sosok mayat yang siap diantar ke liang kubur. Kedelapan, batin para hujjaj selalu tenang Muthmainnah, jiwa mereka selalu istiqomah, dan hati mereka selalu dalam situasi dawamuz zikri wad du’a. Kesembilan, para hujjaj, sejak melaksanakan rangkaian ibadah jumrah, sampai akhir hayat, mende-klarasikan pemyataan perang terhadap syaithan. Kesepuluh, para hujjaj dengan ungkapan kalimat talbiyyah berikrar dalam diri untuk selalu memenuhi panggilan Allah SWT, dengan cara melaksanakan segala perintah Allah serta menjauhi segala larangan-Nya. Mensyukuri nikmat Allah, mengagungkan Asma-nya, serta memelihara diri dan sikap, prilaku dan perbuatan yang akan menyeret mereka ke dalam jurang kemusyrikan. “Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagimu. Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu. Segala puji dan kebesaran nikmat hanya milk-Mu semata. Segenap kerajaan pun milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu”. Dari rangkuman singkat manfaat haji ibadah haji bagi para hujjaj di atas dapat diambil benang merah kesimpulannya bahwa, demikianlah mungkin apa yang dikehendaki oleh Allah SWT terhadap hamba-hambanya yang telah melaksanakan ibadah haji dengan mendapatkan predikat haji yang mabrur dan sisi Allah SWT, Allahu A’lam. Pada salah satu khazanah pemahaman klasik, ibadah haji itu berlambangkan madu. Idiom madu pada konteks manusia menjelaskan tingkat kemanfaatan yang sangat beraksentasi kemanfaatan sosial (masalah jama’ah/ummah). Jadi haji madu adalah suatu keadaan kepribadian, suatu situasi mental dan atmosfir sikap rohani yang berkegunaan sosial yang tinggi. Dengan kata lain, indikator kamabruran seorang haji logikanya, tercermin melalui dua dimensi. Dimensi pertama, kemabruran yang hanya Allah yang maha mengetahui jawabannya. Dan dimensi kedua, dimana gejala kamabruran haji seseorang, bayangannya, pantulannya barangkali dapat dijumpai pada social out-put yang termanifestasikan kedalam realitas hidup seorang haji. Yaitu keimanan yang terwujud dalam bentuk ibadah ritual dan amal sholeh yang terbukti pada sikap dan prilakunya dalam berinteraksi sosial. Seorang haji adalah tingkat seorang hamba yang paling pandai bercermin diri. Orang naik haji, setelah- pulang tidak untuk membangga-banggakan pengalamannya dengan Ka’bah, Hajarul Aswad dan sebagainya. Karena ia bukan barusan kembali dari melakukan perjalanan turistik (tour). Orang menjadi haji artinya berhasil melahirkan kembali kepribadiannya, menjadi “makhluk” yang sama sekali baru dengan “kehambaannya” yang begitu sempurna. Kemudian mensyukurinya, menikmatinya lalu menaburkan kemanfaatannya ke tengah-tengah keluarga, lingkungan masyarakatnya, kampungnya negara maupun universitas kemanusiaan. Rasulullah SAW bersabda: “Rumah ini (Ka‘bah Baitullah) tiang Islam. Barangsiapa yang keluar dari negrinya menuju rumah ini, baik yang akan melaksanakan haji atau umrah, maka ia berada dalam jaminan Allah SWT Jika ia diambil oleh Allah (meninggal dunia saat haji atau umrah) niscaya Allah akan masukkannya ke dalam surga. Dan jika dikembahikannya (kembali dengan selamat ke kampung halaman), maka ia akan kembali dengan membawa pahala dan keuntungan yang besar (dari Allah SWT). (H.R. Ibnu Juraij dengan sanad Hasan) Semoga saudara-saudara kita yang telah kembali dan melaksanakan ibadah haji mendapat haji yang “Mabrur”. Aminya Rahbal ‘alamin. Allahu A’lam. Memelihara “Haji Mabrur” “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu; sujudlah kamu; sembahlah Tuhanmu; dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenarnya. Dia (Allah) telah memilih kamu dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orangtuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaikbaik pelindung dan sebaik-baik penolong”. (QS. Al-Hajj: 77 - 78). Kita senantiasa ikut mendoakan semoga kaum muslimin yang melaksanakan ibadah haji di musim haji tahun ini 1423 H selalu dalam lindungan Allah SWT dan kembali berkumpul bersama keluarga di kampung halaman dengan mendapat haji mabrur dan maqbul, amin ya Rabbal ‘alamin. Para jamaah Haji yang baru tiba dari Tanah Suci Makkah al Mukarramah adalah pribadi-pribadi yang berjiwa baru di tengah-tengah masyarakat dan lingkungannya. Sebelumnya, di saat pelaksanaan haji baru akan di mulai, setibanya di Tanah Suci, kalimat talbiah dikumandangan oleh setiap jama ‘ah, perorangan maupun secara berjama ‘ah. Sungguh situasi yang sangat mengharukan, terkadang tetes dan linangan air mata tak terasa bercucuran membasahi pipi. Tangis itu adalah tangis haru dan suka cita serta tanda syukur yang tak mampu terungkap oleh kata-kata. لبيك اللهم لبيك ... لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك "Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. ya Allah aku penuhi panggilan-Mu. Segala puji dan keagungan nikmat hanya milik-Mu semata. Segenap kerajaan pun milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu”. Allah Swt berfirman: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji; niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka; dan supaya mereka menyebut Nama Allah pada hari yang telah ditentukan”. (QS. Al-Hajj: 27 - 28). Memang, ibadah haji sangat didambakan oleh setiap muslim-muslimin sejati sepanjang hayatnya. Ibadah haji merupakan respon muslim-muslimin sejati terhadap seruan Allah SWT tersebut di atas. Karena setiap muslim-muslimin sejati mendengar seruan untuk menunaikan ibadah haji, disahutnya seruan Allah itu tanpa disadarinya bagaimana sampainya panggilan Allah SWT itu kepadanya kecuali Allah SWT menempa hati setiap muslim-muslimin yang dikehendakinya untuk memberikan respon terhadap seruan-Nya itu. Ibadah haji tidak saja fardhu ‘ain sekali seumur hidup bagi setiap muslim-mukmin yang kuasa dan mampu, tetapi juga mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi para pelakunya, baik kehidupan sosial kemasyrakatan, baik kehidupan ruhaniyah maupun kehidupan materiil. Muslim-muslimin yang telah menunaikan ibadah haji diharapkan rohaninya menjadi semakin kuat dan mantap. Iman dan takwanya diharapkan bertambah tebal, kehidupan dan hubungan sosial masyarakat bertambah luas dan bertambah erat. Para haji yang demikian itulah yang dinamakan “haji mabrur" yang menjadi dambaannya itu dan yang harus dipertahankannya sepanjang hayatnya. Sebenarnya perasaan kita cukup peka dalam mendeteksi hati kita masing-masing, apakah ibadah haji yang telah kita tunaikan mendapat predikat “haji mabrur“ atau menjadi “haji mardud”. Secara ruhaniah haji mabrur akan tampak pada getaran tauhid kita, sedangkan lahiriahnya akan tampak pada prilaku kita sehari-hari dan waktu-ke waktu. Di dalam hati nurani kita, sejak awal kejadian kita, sudah tertanam benih keyakinan akan adanya Allah Yang Maha Esa. Getaran tauhid kita itu sudah merupakan fitrah yang oleh para ulama disebut Gharizah keagamaan kita. Allah SWT. berfirman: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (QS. Al-Rum: 30) Bagi orang yang mendapat predikat haji mabrur, tauhid demikian akan makin memantapkan keyakinannya bahwa hanya Allah SWT yang menghidupkan, yang mematikan, yang meninggikan, yang merendahkan, yang memuliakan, yang menghinakan, yang menyelamatkan, yang mencelakakan, atau yang memberikan sesuatu, dan atau yang mencegahnya. Tauhid yang demikian itulah yang akan mendorong dirinya senantiasa menjadi orang kaya yang kaya, yakni kaya materi dan kaya ruhaninya. Ia akan semakin mengerti dan menafsirkan ajaran agamanya lebih luas lagi yang membawa langkahnya semakin mantap, sehingga ia senantiasa menjadi rahmat bagi masyarakatnya, bangsa, dan negara. Baginya kaya hakiki bukanlah terletak pada kekayaan harta dan benda, emas dan perak yang melimpah ruah, melainkan kekayaan rohaniah, “ghinan- nafsi“. Itulah perkara yang tertinggi dalam hal keluhuran haji mabrur. Bagi siapa saja yang telah menunaikan ibadah haji dan senantiasa mempertahankan kemabruran hajinya, maka ia akan senantiasa melestarikan ungkapan talbiahnya; sebuah peryataan tauhid, rasa syukur dan pengakuan akan nikmat dan anugerah ilahi yang terus ia syukuri. Demikian pula dengan apa yang pernah dilakukan di sana; rajin melakukan shalat secara berjama’ah, menangisi dosa dan kesalahan serta berjanji pada diri untuk tidak mengulanginya lagi, sampai pada simbol lemparan kepada syetan saat jumrah. Kemudian, Perjalanan hidup Nabi Ibrahim a.s beserta keluarganya adalah salah satu contoh ideal yang ia teladani dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT. Perjalanan hidupnya digunakan sepenuhnya untuk ruku’, sujud, beribadah, berbuat kebajikan dan berjuang di jalan Allah SWT. Dalam mengaplikasikan kehambaanya, misalnya, Nabi Ibrahim a.s tidak sekedar didorong oleh kewajiban, tetapi beliau sangat sadar akan pentingnya berserah diri pada Allah SWT. (Hanief). Jika semua rangkaian ibadah yang pernah dilakukan selama menunaikan ibadah haji kemudian dihayati dengan hati yang khusyu’, insya Allah hal itu dapat mempengaruhi keimanan seseorang menuju kesempumaanya yang kemudian ia aplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari. Tidaklah terlalu sulit rasanya untuk disaksikan secara mata telanjang, adakah diri yang pernah menunaikan ibadah haji mendapat predikat haji yang mabrur yang berarti maqbul atau haji yang berpredikat mardud atau tertolak. Meskipun akhirnya jawaban yang pasti akan terpulang kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala perkara! Tidaklah mudah memang untuk mencapai haji yang mabrur, apatah untuk mempertahankan atau melestarikannya hingga hayat berakhir, apalagi jaza’ atau balasannya yang pantas adalah surga. Namun demikian kita tetap mengharap dan berdoa, semoga Allah SWT yang telah menganugerahkan haji mabrur kepada yang mendapatkannya juga memeliharanya dan orang yang menerimanya sehingga haji mabrur bukan sekedar predikat yang hanya dapat dicapai namun tak mampu dipertahankan, apalagi jika ia hanya sebutan dan harapan di bibir saja, na‘udzubillah. Allahu a‘lam. Rahasia Berqurban "Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), "Aku pasti membunuhmu !" Berkata Habil, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa." (Q.S. Al-Maidah: 27) Didalam bahasa Arab, Qurban berasal dari akar kata qarraba yuqarribu-qurbaanan yang berarti mendekatkan. Seseorang yang berqurban adalah orang yang mempersembahkan sesuatu kepada Allah semata-mata untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan berusaha mendapatkan keridhaan-Nya. Maka, ketika seseorang berqurban (dalam bahasa Indonesia berkorban), adalah seseorang yang melakukan perbuatan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah dengan perbuatannya tersebut. Adapun sejarah awal disyaria’tkannya qurban, kembali kepada sejarah manusia pertama ciptaan Allah, Adam ‘Alaihissalam. Yaitu ketika terjadi perselisihan diantara kedua putranya Qabil dan Habil. Mereka berselisih di seputar saudara perempuan yang mesti dinikahi. Syari’at Allah telah menentukan, bahwa Qabil harus menikah dengan saudara perempuan yang lahir bersama Habil, demikian pula dengan Habil juga harus menikah dengan saudara perempuan yang lahir bersama Qabil, itulah syar’at Allah yang mesti mereka jalankan. Namun Qabil menolak apa yang telah ditentukan oleh syari’at Allah, ia tetap ingin menikahi saudara perempuan yang lahir bersamanya, dengan alasan-alasan yang ia buat. Maka Adam pun memerintahkan kepada kedua putranya tersebut untuk menghadirkan hewan quran peliharaannya. Singkat cerita, qurban Habil yang diterima Allah, karena ia menghadirkan yang terbaik dari hewan peliharaannya untuk dijadikan quran, sedangkan Qabil justru sebaliknya, sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya di atas. Bahkan ayat di atas menerangkan bahwa syarat utama diterimanya qurban seseorang adalah ketaqwaannya kepada Allah, dan keikhlasan yang mendasari setiap amalannya. Sebagaimana ucapan Habil terhadap Qabil yang ingin membunuhnya: “Sesungguhnya Allah Hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-Maidah: 27) Pada masa Nabi Ibrahim as., peristiwa qurban justru lebih dahsyat lagi. Allah SWT. Memintanya untuk berqurban dengan menyembelih putranya Isma’il, seperti yang beliau lihat dalam mimpinya, dan mimpi para Nabi adalah wahyu sebagaimana sabda Rasulullah SAW. “Mimpi para Nabi itu adalah wahyu” (HR. Bukhari) Artinya, bahwa setiap mimpi yang dilihat oleh para nabi dalam tidurnya merupakan wahyu dari Allah SWT, apakah itu suatu perintah ataupun larangan dari-Nya. Isma’il adalah putra pertama Nabi Ibrahim as. dari Siti Hajar yang lahir diawal usianya yang ke-86 tahun, dan Allah memintahnya untuk berqurban dengan putra yang sudah sekian lama ia dambakan kehadirannya, yang akan mewarisi aqidah tauhid. Kisah ini Allah abadikan dalam al-Qur’an: (QS. Ash-Shaffat: 102) Bagaimana mungkin hati seornag ayah akan rela untuk menyembelih putranya yang baru saja tumbuh dewasa, yang sangat ia cintai, walaupun dengan alasan untuk berqurban (mendekatkan diri kepada Allah), tetapi karena ini merupakan perintah Allah, tidak ada pilihan baginya selain melaksanakan perintah-Nya. Inilah ujian terberat bagi keimanan, kesabaran dan keikhlasan Ibrahimdan putranya Isma’il. Dalam melaksanakan perintah Allah, Nabi Ibrahim bukanlah seornag yang egois, beliau tetap meminta pendapat putranya Isma’il dalam masalah ini. Sang putra dengan kesabaran yang penuh tetap meyakinkan ayahnya akan kebenaran perintah Allah. Dalam kisah ini disebutkan bahwa setan terus menerus berusaha menggoda kedua hamba Allah ini untuk tidak melaksanakan perintah Allah tersebut. Maka, dengan keimanan yang kuat dari keduanya, kesabaran dan keikhlasan yang tulus kepada Allah, maka Nabi Ibrahim-pun bersiap-siap untuk melaksanakan peristiwa yang mungkin saja akan merenggut nyawa anaknya. Allah berfirman : Q.S. Ash Shaffat : 103-107 Nabi Muhammad SAW memberikan contoh teladan kepada kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, diantara sarana untuk itu adalah dengan semangat berqurban di jalan Allah. Perjuangan Rasulullah dari awal sampai akhir kehidupannya tidak lepas dari kecintaannya untuk berqurban. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Rasulullah saw. Pernah berqurban dengan seribu ekor unta. Demikian kedermawanan Rasulullah dalam masalah harta yang Allah titipkan kepadanya. Para sahabat yang dididik oleh Rasulullah saw. tidak mau kalah dengan sesama mereka dalam masalah pengorbanan harta, tenaga, fikiran, dan nyawanya di jalan Allah, seperti halnya Abu Bakar as Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin ‘Affan Ali bin Abi Thalib dan para sahabat yang kaya raya lainnya. Kecintaan kita terhadap harta memang kadang-kadang menutup hati kita untuk tidak mau bekorban dan berinfaq di jalan Allah, bahkan menjadikan kita lupa kepada Allah yang telah menitipkan harta tersebut kepada kita. Para ulama kita sering menyebutkan, "Dalam masalah harta cukup engkau letakkan di dalam genggaman tanganmu saja, dan jangan sampai masuk ke dalam hatimu". Dalam kenyataannya, tidak ada orang yang jatuh miskin dan melarat atau bangkrutsetelah brqorban atau bersedekah di jalan Allah. Bahkan mereka merasakan keberkahannya, bahwa Allah menambah kemakmuran, kejayaan dan menggantikan harta yang telah mereka keluarkan di jalan Allah tersebut. Kehidupan kita di saat ini memang memerlukan pengorbanan dan perjuangan, sesuai dengan tingkat kemampuan yang ada pada kita, dan Allah tidak akan membebani seseornagpun melainkan dengan kesanggupan dan kemampuan yang ia miliki. Firman Allah : "Allah tidak akan membebani seseorang melainkan yang sesuai dengan kemampuannya." (Q.S. Al Baqarah : 286) Pengorbanan yang sangat diperlukan dari kita mencakup pengorbanan tenaga, harta, pemikiran dan bahkan nyawa dalam menegakkan agama Allah dan dalam menjalankan syari’at-Nya di muka bumi. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan, setiap kita dituntut untuk dapat berkorban semaksiamal mungkin dengan harapan untuk mendapatkan kemuliaan hidup di bawah naungan ridha Allah Subhanahu Wata’ala di dunia dan di akhirat kelak. Allah tidak akan menyia-nyiakan setiap pengorbanan yang kita berikan bagi agama-Nya, sebagaimana yang telah Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang terdahulu. Kisah perjuangan Habil, Nabi Ibrahim dan putranya Isma’il, Rasulullah beserta para shabat beliau dalam menegakkan syari’at Allah dapat kita jadikan contoh dan taulani dari suatu pengorbanan lahir dan batin, walaupun tantangan yang akan ia hadapi adalah nyawanya sekalipun, sesuai dnegan firman-Nya : "Hai orang-orang yang beriman, jika engkau menolong Allah (agama-Nya), niscaya Allah akan menolong kamu, dan akan mengokohkan kedudukanmu". (Q.S. Muhammad : 7) Allahu a’lam bi ash shawab Kab. Agam | Selasa, 20/01/2009 09:24 WIB
Seni Tradisi Bangkitkan Sumbar di Pentas Nasional
Iven Rang Minang Baralek Gadang yang telah diadakan secara estafet di sejumlah daerah sejak 16 Desember 2008, direncanakan akan mencapai puncaknya pada 24 Januari di Nagari Koto Gadang Kecamatan IV Koto Agam. Di samping sukses acara, kegiatan tersebut juga berhasil mengangkat kembali nilai-nilai tradisi masyarakat Minangkabau, yang diusung setiap daerah yang menjadi rangkaian kegiatan Rang Minang Baralek Gadang ini.

Di Bukittinggi, Rang Minang Baralek Gadang diisi dengan Festival Silat Tradisi, Lomba Baju Kuruang, Lomba Lagu Bundo Kanduang dan Lomba Panitahan. Item kegiatan yang didengungkan mulai 23 hingga 25 Desember ini mendapat respon yang cukup reaktif dari masyarakat, terbukti salah satunya dengan penampilan 15 perguruan Pencak Silat dari sejumlah daerah di Sumatera Barat serta 7 Pengcab Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).
“Ini sebuah kegiatan yang mendapat respons luar biasa oleh tuo-tuo silek Minangkabau, karena belum tentu setiap kegiatan dapat mempertemukan tokoh tadi,” ungkap Herman Sofyan, selaku koordinator bidang Silat Tradisi dalam rangkaian Rang Minang Baralek Gadang di Bukittinggi.
Bahkan pelataran Sighi Foto Studio yang menjadi pusat kegiatan festival ini dibanjiri penonton sejak sore hingga malam, sepanjang jadwal yang telah ditetapkan panitia. Acara itu sendiri dibuka Ketua Umum Rang Minang Baralek Gadang, H Leonardy Harmainy, yang berkeyakinan seluruh rangkaian kegiatan tadi akan bermuara kepada kebangkitan kembali Sumbar di pentas nasional, melalui kekayaan seni tradisi dengan mengambil momentum 100 tahun kebangkitan nasional.

Penajaman dari terilhaminya Rang Minang Baralek Gadang juga terinspirasi semangat mengajak generasi muda untuk kembali mengetahui dan mencintai kekayaan tradisi Minangkabau, agar tidak terpengaruh oleh perkembangan global dewasa ini. Mencintai budaya dan seni tradisi, terang Leonardy, bukan sebuah kemunduran pola hidup, tapi bagaimana menjaga agar warna kehidupan berjalan dalam tatanan adat, budaya serta norma yang berlaku di tengah masyarakat.
“Melihat kemajuan sebuah masyarakat salah satunya dapat diketahui dari bagaimana mereka hidup dalam tatanan norma lokal mereka. Bahkan masyarakat dunia saat ini lebih cenderung datang atau melihat sebuah daerah tentang bagaimana masyarakat lokal hidup dengan norma lokal mereka, salah satunya kekayaan seni budaya yang selama ini tidak mereka temukan ditempatnya,” terang Leonardy ketika membuka Festival Silat Tradisi dalam rangkaian Rang Minang Baralek Gadang di Bukittinggi.
Menyikapi semangat 100 tahun Kebangkitan Nasional, tambah Leonardy, rasanya tidak terlalu berlebihan jika momentum tersebut dijadikan sebuah loncatan untuk mengangkat kembali nilai tradisional Minangkabau, baik untuk tingkat lokal atau nasional. Sebab dengan kekuatan nilai-nilai tradisional itulah akan terlihat kekuatan Sumatera Barat, yang kokoh memegang dan menjalankan aturan norma mereka yang selama ini dihargai, dihormati dan menjadi sebuah kekuatan budaya nasional.
“Pencak silat merupakan salah satu seni tradisi Sumbar, yang diyakini sampai saat ini belum ada duanya di Indonesia atau dunia. Bahkan kesenian tersebut dipelajari oleh orang dari berbagai belahan dunia, sehingga jika tidak terus dipertahankan serta dilestarikan maka akan hilang begitu saja dikemudian hari. Apalagi tidak tertutup kemungkinan nantinya akan datang kelompok atau bangsa tertentu yang meng-klaim kesenian tadi sebagai milik mereka,” ungkapnya.
Untuk itu, berbagai ivent yang diangkat pada Rang Minang Baralek Gadang selain berdampak kepada melestraikan budaya kepada generasi muda, juga sebuah wujud eksistensi diri orang Minangkabau tentang berbagai simbol yang ada pada dirinya terhadap dunia luar. Pada iven tersebut juga digelar Kongres I Rang Minang, Musyawarah Duduak Barapak, launching Padang TV dan Padang Today (Grup Padang Ekspres), Nagari Cyber, Manggulai 1001 Itiak Hijau, Cerdas Cermat tingkat SMA, pameran dan promosi produk nagari serta bursa tenaga kerja.
Juga direncanakan peresmian rumah pahlawan H Agus Salim di Koto Gadang menjadi museum, dan rumah Rohana Kudus sebagai museum pers nasional. (*) (Eka Ridhaldi Alka - Padang Ekspres) http://www.padang-today.com/?today=news&id=3236
Propinsi | Kamis, 15/01/2009 15:21 WIB Ilmuan Belanda Akan Teliti Sejarah Perang Paderi Padang (ANTARA) - Sejarah perang paderi yang ada dalam arsip nasional yang ditulis dalam bahasa Belanda, akan diteliti seorang Ilmuan Kearsipan dari Universitas Leiden Belanda Prof Charles Juergens guna mengetahui perbandingan di antara referensi-referensi yang telah di Belanda. "Mekanismenya dengan melihat jenis arsip yang ada di Indonesia khususnya Sumatra barat, dengan demikian jika ada kesalahan yang ada pada referensi di Belanda dapat diperbaiki, papar Charles kepada antara-sumbar.com saat mengunjungi Badan Arsip Nasional Jl.Pramuka, Padang , Kamis (15/1). Menurut aktivis yang telah menggeluti dunia arsip sejak 1985 ini, kebenaran Perang Paderi perlu diteliti lebih jauh dari daerah. Rencananya penelitian ini sekaligus untuk melestarikan arsip-arsip yang ada di Sumbar agar jangan sampai ada perbedaan setelah sampai di Belanda. "Di Universitas Leiden terdapat naskah-naskah Sumatera, tetapi saya ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai hal itu. Dengan begitu saya dapat membuat laporan tentang keadaan yang sebenarnya dan membetulkan jika terjadi kesalahan. Rencananya penelitiannya ini akan dilakukan selama 5 tahun dan dibiayai oleh Universitas Leiden. Namun ia enggan menyebutkan jumlah dana yang akan digunakannya selama lima tahun itu. "Gaji saya juga dipotong pihak universitas dalam penelitian saya ini," katanya. (cwp1/RAR) http://www.antara-sumbar.com/id/?mod=berita&d=1&id=12345 Propinsi | Kamis, 15/01/2009 15:21 WIB Ilmuan Belanda Akan Teliti Sejarah Perang Paderi Padang (ANTARA) - Sejarah perang paderi yang ada dalam arsip nasional yang ditulis dalam bahasa Belanda, akan diteliti seorang Ilmuan Kearsipan dari Universitas Leiden Belanda Prof Charles Juergens guna mengetahui perbandingan di antara referensi-referensi yang telah di Belanda. "Mekanismenya dengan melihat jenis arsip yang ada di Indonesia khususnya Sumatra barat, dengan demikian jika ada kesalahan yang ada pada referensi di Belanda dapat diperbaiki, papar Charles kepada antara-sumbar.com saat mengunjungi Badan Arsip Nasional Jl.Pramuka, Padang , Kamis (15/1). Menurut aktivis yang telah menggeluti dunia arsip sejak 1985 ini, kebenaran Perang Paderi perlu diteliti lebih jauh dari daerah. Rencananya penelitian ini sekaligus untuk melestarikan arsip-arsip yang ada di Sumbar agar jangan sampai ada perbedaan setelah sampai di Belanda. "Di Universitas Leiden terdapat naskah-naskah Sumatera, tetapi saya ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai hal itu. Dengan begitu saya dapat membuat laporan tentang keadaan yang sebenarnya dan membetulkan jika terjadi kesalahan. Rencananya penelitiannya ini akan dilakukan selama 5 tahun dan dibiayai oleh Universitas Leiden. Namun ia enggan menyebutkan jumlah dana yang akan digunakannya selama lima tahun itu. "Gaji saya juga dipotong pihak universitas dalam penelitian saya ini," katanya. (cwp1/RAR) http://www.antara-sumbar.com/id/?mod=berita&d=1&id=12345  Setelah Dibunuh, Teroris Israel itu Membiarkan Anjing Memakannya, Biadab!
“Ya Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan yang mengerikan seperti ini,” jerit Kayed Abu Aukal. Doktor emergency itu tak percaya dan tak tahu lagi kata-kata apalagi yang bisa diungkapkan untuk menggambarkan kekejian Israel . Dia tak percaya, dirinya sendiri telah melihat beberapa hari sekembalinya untuk melihat Jenazah balita Shahd. Tubuh anak kecil perempuan yang berumur 4 tahun itu terkoyak-koyak dimakan anjing-anjing Israel .
Shahd tewas dan telah menjadi syuhada cilik ketika peluru kendali Israel ditembakkan ke belakang rumahnya di Kamp Pengungsian Jabaliya sebelah Utara Jalur Gaza. Saat itu, gadis cilik yang lucu tersebut tengah bermain.
Orangtua Shahd mencoba menyelamatkan putri kesayangannya yang telah bersimbah darah itu. Ketika ia mencoba mengambil jasad Shahd, pasukan teroris Israel menghujaninya dengan tembakan dari kejauhan. Selama lima hari berkutnya jasad gadis balita itu telah terkoyak-koyak dirobek anjing yang dilepaskan oleh tentara Israel . “Anjing-anjing itu tidak menyisakan satu bagian pun dari tubuh anak kecil itu,” kata Abu Aukal.
“Kami telah melihat pemandangan yang menyayat hati selama 18 hari ini. Kami telah mengambil jasad anak-anak yang tubuhnya robek atau terbakar, tetapi belum pernah kami melihat hal seperti ini,” katanya lagi.
Melihat jenazah adik perempuannya yang masih balita menjadi santapan anjing-anjing tentara Israel , saudara laki-laki Shahd bernama Matar dan sepupunya bernama Muhammad, nekad mendekati jenazah Shahd. Keduanya pun dihujani peluru Israel sebelum keduanya dapat mencapai tubuh Shahd. Matar dan Muhammad pun menjadi syuhada, menambah daftar warga palestina yang syahid yang hingga hari ini telah mencapai 1.001 orang syahid sejak pembantaian 27 Desember lalu.
Sengaja
Omran Zayda, seorang tetangga Shahd, mengatakan, orang Israel mengetahui apa yang mereka lakukan itu. “Mereka memburu keluarga Shahd dan mencegahnya untuk sampai ke tubuh Shahd, dan mereka tahu bahwa anjing-anjing itu akan memakannya,” kata Zayda.
“Mereka tidak hanya membunuh anak-anak kami, mereka sengaja melakukannya dengan cara yang paling kejam dan biadab,” Zayda mengatakan kata-katanya, bahkan kamera, tidak dapat menggambarkan pemandangan yang mengerikan itu.
“Kalian tidak akan pernah membayangkan apa yang telah dilakukan oleh anjing-anjing itu terhadap tubuh Shahd yang tak berdosa itu,” katanya sambil terisak-isak tak tahan mencucurkan air matanya.
Sejumlah warga palestina mengungkapkan, apa yang menimpa Shahd bukanlah yang pertama. Banyak warga mereka mengalami hal yang sama dengan Shahd. Di Jabaliya, saat keluarga Abd Rabbu sedang memakamkan tiga anggota keluarganya yang telah syahid, pasukan biadab Israel menembaki mereka, kata saksi mata.
Orang-orang pun berlarian mencari perlindungan dari tembakan brutal itu. Tentara-tentara Israel kemudian melepaskan anjing-anjingnya ke arah jenazah anggota keluarga Abdu Rabbu yang belum sempat dimakamkan itu. “Apa yang terjadi kemudian sangat mengerikan dan tidak bisa dibayangkan,” kata Saad Abd Rabu, pamanya.
“Anak-anak kami tewas di depan mata kami dan kami dicegah untuk memakamkannya. Orang-orang Israel hanya melepaskan anjing-anjing mereka ke arah jenazah itu, bahkan seakan-akan mereka tidak cukup dengan kekejaman yang telah mereka lakukan itu,” jeritnya.
Biadab
Benar-benar biadab apa yang telah dilakukan oleh teroris Israel itu. Di tengah-tengah diamnya para tentara-tentara negeri-negeri Muslim, dengan leluasa penjajah Israel melakukan kebiadabannya. Bahkan kekejian di atas benar-benar biadab. Hingga hari ini para penguasa negeri-negeri Muslim masih diam bahkan bersekongkol dengan membiarkan pembantaan terus terjadi.
Media dunia yang dikuasai Israel , menggiring opini seolah-olah tindakan Israel itu wajar. Padahal, lihatlah betap kekejaman mereka lebih dari serangan teroris yang tak beradab. Bohong, jika teroris Israel itu hanya memburu Hamas. Yang terjadi adalah tindakan brutal dan biadab terhadap warga sipil yang kebanyakan mereka anak-anak kecil dan perempuan. Tak puas hanya membunuh warga Gaza , teroris Israel itu juga melepaskan anjing-anjingnya untuk memakan jenazah syuhada Gaza . Biadab!
Sampai kapan kebiadaban Israel ini terhenti? Lalu di manakah para pelindung anak-anak Palestina? Dimanakah tentara-tentara Muslim yang akan menyelamatkan anak-anak Gaza itu? Di manakah tentara-tetara negeri Islam yang akan menyelamatkan ayah dan ibu mereka? Di manakah Amir umat ini?
Sungguh hanya orang yang biadab saja, yang membiarkan Israel membantai Gaza . Lalu mereka menyibukkan diri dengan perundingan sementara mereka memiliki pasukan dan perlengkapan perang. Mereka enggan untuk menyelamatkan Gaza dengan mengerahkan pasukan yang akan menghancurkan penjajah Israel itu! Nasionalisme dan cengkraman PBB telah membuat mereka diam.
sumber:http://syabab. com/index. php?option= c...unia&Itemid=54
 Istano Basa Ampek Balai di pagaruyuang Batusangka dalam pekerjaan penyelesaian, tampak kuda-kuda sudah terpasang untuk pemasangan atapnya. Kepada Buya H. Masóed Abidin yang dimuliakan ALLAH SWT,
Salam hormat Buya, Melalui e-mail ko, Ámbo mohonkan perkenan Buya untuak maagiah uraian ateh masalah yang kami hadapi di Masjid Nurul Ikhsan,Pejaten Pasar Minggu Jakarta, tampek ambo tingga.
Masalah no yaitu: Alah saminggu labiah ko tiok dalam sholat 5 wakatu bajamaáh Imam salalu mambaco doá qunut nazilah di satiok rakaat terakhir dengan alasan untuak mandoákan saudara2 nan sadang dapek musibah di Palestina yang dizalimi oleh bangsa Israel.
Untuak masalah iko, ambo mohon bana penjelasan dari Buya, apo ado hukum atau sunnah nan shahih tantang iko? Karano terus terang ambo ndak puas dengan penjelasan ustad di masajik tu nan ndak manyabuikkan perawi hadis nan dibacokan no. Samantaro Pengurus masajik (sebagian) dan jamáah banyak nan manyatokan bahwa awak ndak paralu mambaco qunut nazilah, karano bukan parang antar agamo?
Kalau cuman untuak alasan saudara seIman, manga kok awak ndak lakukan atas saudara awak di Afghanistan, dll. Jaan sampai karano masalah ko jamaáh tapacah, karano indikasi ka arah itu alah tampak... Demikian dulu Buya, semoga penjelasan Buya dapek manjawek karaguan ambo dan jamaáh serta beberapa pengurus lain no.
Atas penjelasan Buya ambo sampaikan tarimo kasih banyak. Wassalam Defiyan Cori L/40
Alaikum salam Warahmatullahi wa barakatuh,
Adinda Defyan Cori yang dimuliakan Allah. Salam untuk semua keluarga dan jamaah Muslimin di Bekasi,
;">Soal qunut Nazilah setelah i'tidal itu banyak ditemui di dalam hadist-hadist Nabi SAW, dalam perbuatan beliau atau suruhan beliau.
Di antaranya pada hadist Riwayat Imam Muslim, dalam Kitab Shahih Muslim bab Shalat, hadist nr.419, 420, 421, 422 dan 423, yang di antara kesimpulannya Rasulullah SAW pernah melaksanakan qunut, malah sampai satu bulan bertutur-turut (sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah),
Dalam doanya sering mendoakan orang-orang yang membunuh para sahabat dalam perang Bir Ma'unah sampai 30 kali shalat shubuh, bahkan mengutuk Kabilah Riil dan Zakwan, Libyan dan 'Ushaiyyah yang telah berbuat durhaka terhadap Allah dan Rasulnya (sebagaimana Muslim meriwayatkan hadist itu dari Sahabat Anas bin Malik).
Malah ada hadist dari Barraa~i bahwa Rasulullah SAW membaca qunut pada shalat shubuh dan maghrib.
Karena qunut adalah doa, dan doa adalah senjata orang mukmin, barangkali lebih mangkus dari peluru kendali yang dilontarkan oleh Israel di Ghaza kini.
Di antara doa yang baik adalah dengan jiwa yang suci bersih mari kita tundukkan hati kepada kebesaran Allah, mengharap karunia dan rahmat-Nya, untuk keluarga kita, kaum Muslimin, dan bangsa kita,
رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافَرْيْن.
"Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir".
اللَّهُمَّ لاَ تُمْكِنُ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ َيَخافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا
"Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami".
اللهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ الَّذِي يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يَكْذِبُوْنَ رَسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ
"Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi".
اللهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لا َتَرُوْدَهُ عَنِ القَوْمِ الُمجْرِمِْينَ.
"Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkan kepada mereka 'azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa".
اللهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اخْذُلِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْنَ
"Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik".
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
Demikian jawaban buya secara amat sederhana, dan silahkan cari Shahih Muslim yang barangkali sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Wassalam, Buya HMA  --- On Tue, 1/13/09, Masoed Abidin wrote:
Re: Mengapa Yahudi Mengincar Bocah-Bocah Palestina? To: RantauNet@googlegroups.com Date: Tuesday, January 13, 2009, 4:10 AM
Salah satu data Qurani bahwa Yahudi yang di usir dari Mesir tempo dulu mengikut Musa, karena Fir'aun melakukan genocida terhadap anak-anak lelaki mereka.
Yahudi itu sejak dulu penyanjung setia Fir'aun. Buktinya Qarun, Haman adalah turunan Yahudi.
Kemudian, setelah mereka diselamatkan Allah menyeberangi Laut Merah dan berada di tanah Kan'an mereka ulangi ajaran Fir'aun dan ingkari Allah dan Musa. Mereka kembali membuat patung sapi dipimpin Samiri. Tidak mengherankan patung2 di bumi Kinanah peninggalan Fir'aun itu hampir semua bertipe binatang, sejak Singa, kuda, lembu, burung dan sebagainya, tampak pada peninggalan Mesir Kuna berpuluh abad sesudahnya.

Ajaran yang dianut Yahudi (Jews) itu ajaran KABBALAH atau ilmu setan yang tidak mengenal perikemanusiaan, tapi peri kesetanan.
Saat ini Israel mengulangi sejarah genocida terhadap anak-anak Palestina membalaskan dendam mereka yang sudah ada sejak zaman Fir'aun itu.
Sejarah kembali menikam jejak.
Dan ini merupakan titik kelumpuhan dan kepunahan Yahudi Israel.
Mari kita lihat bersama kekuasaan Allah. Laa takhaafu wa laa tahzanuu, Innallaha ma'al muhtadiin.

Wassalam, Buya HMA
--- On Mon, 1/12/09, Noviadi Edwar wrote:
Mengapa Yahudi Mengincar Bocah-Bocah Palestina? Senin, 12/01/2009 16:34 WIB
Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza .
Seperti yang diketahui, setelah lewat dua minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 900 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak. Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka.
Sebulan lalu, seusai Ramadhan 1429 Hijriah, Khaled Misyal, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz Alquran. Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. "Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?" demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.
Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan Alquran. Tak ada main video-game atau mainan-mainan bagi mereka. Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid. (sa)

|  | Merajut Ukhuwah masyarakat Muhtadin Mentawai |

|  | Bersilaturahim setelah shalat dan membersihkan daging sembelihan hewan qurban |
1. Memang tepat yang ditanyakan oleh ananda Elza Rahmi Syahri Chaniago yang menanyakan silsilah kerajaan di Sumatera Barat – dan menjadikan saya ikut bertanya apakah ada yang namanya kerajaan Minangkabau itu ?
2. Kemudian panjang lebar Arman Bahar Piliang Malin Bandaro, mempostingkan tentang asal usul suku bangsa minang kabau yang bersumber dari Tambo, yang memiliki kesamaan alur dan isi tambo dengan bermacam sumber sumber yang bisa kita baca, walaupun ada yang berbeda dalam penamaan beberapa pelaku yang tersebut dalam tambo
Bagi kita yang namanya tambo, tetaplah mithos dan saya menyatakan bahwa itulah karya spektakuler dari nenek moyang kita, yang menjadi dasar bagi lahirnya adat istiadat minangkabau kelak dikemudian hari, dengan wilayah katanya :
"Jauah nan buliah ditunjuakkan, dakek nan buliah dikakokkan, sabarih bapantang lupo satitiak bapantang ilang, kok ilang tulisan di Batu, di Limbago tingga juo, nan Salareh Batang Bangkaweh, Salilik Gunuang Marapi Saedaran Gunuang Pasaman Sajajaran Sago jo Singgalang sahinggo Talang jo Gunuang Kurinci, Benar – benar sangat luaaass…..
3. Sebagaimana tambo telah mengkisahkan asal usul perkembangan manusia minangkabau (“ melayu muda “ ) yang berada di Negeri Bungo Setangkai – atau mungkin ada istilah lain negeri itu - kemudian berkembang dan berkelompok menjadi kesatuan masyarakat hukum adat yang dipimpin oleh penghulu pucuknya – maka tetap saja yang menjadi acuan dalam hukum adat mereka itu adalah yang tersebut pada tambo dengan berbagai variasi cerita.
4. Saya (pribadi), mengumpamakan Minangkabau adalah seperti Inggris Raya yang didalamnya terdapat raja – raja kecil yang melaksanakan hukum adat dan Limbago yang berasal dari Datuak Maharajo Dirajo yang menjadi asal usul manusia Minangkabau pada masa dahulunya. Datuak Maharajo Dirajo menciptakan Kelarasan - Luhak nan Tigo. Kemudian selanjutnya hadir pula Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang, Keduanya membentuk fondasi bagi adat istadat di Minangkabau ; meliputi undang-undang dan Limbago serta pembagian suku ; bodi - chanioago – koto – piliang, dst nya.
Dalam kerangka ini, maka pembentukan kelompok masyarakat hukum adat yang berpayung dibawah panji alam minangkabau - yang asal usulnya sebagaimana tertuang didalam Tambo itu , maka tidak dapat dipungkiri bahwa kelompok masyarakat itu - berkelompok dalam satu kepemimpinan – yang berstatus raja kecil (seperti halnya Lord di Inggris).
Barangkali demikianlah kenyataan yang harus digali, kerajaan apa saja yang ada saat itu. Misalnya : Pagaruyung. Ada kerajaan yang sudah tenggelam seperti ; Darmasyraya, Indera Pura, Sungai Pagu, Taraguang (seperti yang dilotarkan oleh Datuk Endang). Lebih-lebih Sungai Tarab yang juga harus menggali secara histori, karena disinilah bermula adanya cerita yang ada di dalam Tambo yang saya baca.
5. Yang menjadi pertanyaan kita sekarang ? Mengingat sedemikian kuatnya ketentuan adat dan limbago yang diciptakan oleh Nenek moyang kita dahulu itu - Datuak Maharajo Dirajo – kemudian Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang, saya meyakini bahwa raja – raja kecil itu tidak akan membuat Undang-undang dan limbago yang baru – yang berlainan dengan adat dan limbago yang sudah dikembangkan penghulu gadang kita sebelumnya.
Lagi pula - memperbincangkan sebuah kerajaan – seperti halnya sebuah Negara - ada suatu teori yang menjadi dasar diperolehnya suatu pengakuan suatu kerajaan/negara, yaitu :
- adalah wilayah dalam batas-batas yang jelas,
- adanya rakyat yang mengakui kedaulatan sang raja,
- ada system pemerintahan yang dipatuhi oleh rakyat yang berada di wilayah itu.
- Adanya sumber daya alam yang dikelola. Untuk hal ini bisa diabaikan…
- Memiliki power / kekuatan untuk melawan hegemoni asing. Untuk hal ini bisa juga diabaikan……
Jika syarat – syarat minimal ini tidak dimiliki oleh yang namanya kerajaan itu – marilah kita menarik kesimpulan bahwa keberadaan kerajaan – kerajaan di wilayah Sumatera barat tidak lain hanyalah suatu kesatuan Masyarakat Hukum Adat, seperti halnya sebuah Nagari saja.
Mengenai kekuasaan Nagari – bukankah pengaruhnya, tidak lain adalah adat berlaku “ salingka nagari “.
Mungkin saja sebuah Nagari ada yang menyebut dirinya sebagai kerajaan – karena memiliki perangkat perangkat minimal dari sebuah kerajaan sebagaimana yang telah saya uraikan dalam butir 5 ini.
6. Saya menyimak harapan Mamak Saaf yang mewacanakan pembentukan Lembaga Kajian Kerajaan-kerajaan di Minangkabau (LKKM). Oleh karenanya saya sebagai perantau minang sangat mendukung penelitian dan penyelidikan kerajaan – kerajaan itu, asal fokusnya adalah :
a. melakukan kajian terhadap sejauh mana peran dan kehadiran kerajaan itu bagi pengembangan adat istiadat Minangkabau itu sendiri atau,
b. Bagaimana pengaruh adat yang ditanamkan dan diciptakan oleh Datuh/ Penghulu kerajaan kecil itu - berlaku secara nyata di wilayah Minangkabau, jika sekiranya kerajaan itu memang ada….
c. Menelusuri, apakah kerajaan kerajaan yang ada itu memiliki persamaan adat dan falsafah hidup sesuai( falsafah alam minangkabau), sehingga tetap merupakan kesatuan geografis, ekonomi dan sosial yang berbasis pada kesamaan histori dan budaya.
7. Penutup :
a. Minangkabau tetap lebih dikenal sebagai sebuah kebudayaan dari pada sebuah kerajaan, karena asal usul adat istiadat Minangkabau sebagaimana yang tertuang dalam Tambo - bermula dari mitos mitos dan diyakini sebaga sumber lahirnya hukum adat di Minangkabau.
b. Menelusuri silsilah kerajaan di Sumatera Barat, selayaknya hanyalah untuk mengimbangi apa yang dikritisi oleh suku bangsa lain sebelumnya bahwa asal usul kehidupan etnis minang adalah berasal dari mitos mitos.
Bila kita berhasil mengikis mitos mitos menjadi suatu fakta – fakta sejarah – maka alam minangkabau semakin besar pengaruhnya dalam keberagaman hidup dikalangan masyarakat Indonesia. Apakah ada kerajaan yang berjasa mengembangkan agama islam di Minangkabau ini.
c. Untuk kepentingan pengukuhan “ adat bersendiri syara’ dan syara’ bersendi kitabullah (ABS - SBK) yang saat ini tengah dikaji, bagi saya penelusuran kerajaan kerajaan di Sumatera Barat adalah dalam rangka menelusuri sejauh mana sumbangan yang diberikan kerajaan kerajaan itu bagi perkembangan adat dan agama Islam di Sumatera Barat.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa justru untuk mengedepankan syariah islamlah maka Tuan Iman Bonjol alias Peto Syarif maju sebagai panglima Paderi – yang sebelumnya berseberangan dengan tokoh – tokoh adat – kemudian berperang dengan pihak Belanda. Bukankah kajian atas perang paderi dan Tuanku Imam Bonjol ini tengah dilakukan?. d. Saya juga masih penasaran dengan kiprah " 3 orang datuk " yang konon berasal dari Minangkabau yang bernama "datuk ribandang datuk ripatimang dan datuk ritiro, yang berjasa dalam penyebaran agama islam pada kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan - yang sudah dipostingkan di RantauNet ini melalui bantuan suami saya – Nizhamul Latif pada bulan yang lalu. Bagaimana kita sebagai orang minangkabau - menyikapi fakta sejarah ini Belum lagi yang lain ....
Demikianlah tanggapan dari saya mengenai silsilah kerajaan - kerajaan di Sumatera Barat dalam memberikan pencerahan kepada generasi muda minangkabau.
Wassalam,
3vy Nizhamul
http://putrinirma.wordpress.com http://bundokanduang.wordpress.com

|  | Menjalin ukhuwah para Muhtadin Mentawai |
| |